X CLOSE
Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
Poker Online Domino QQ

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51 Start

“Sekarang gantian yaa, elo yang keluar..” Ucap Dosa sambil beranjak naik dari posisinya.

Denger Dosa ngomong gitu, gue jadi pengen tau apa yang bakalan Dosa lakuin buat bikin gue keluar..

Dosa lalu mulai bergoyang naik dan turun secara perlahan. Dalam posisi berjongkok, dia dengan bebas mengatur kedalaman penetrasi tonggak revolusi gue. Sesekali dia menekan begitu dalam hingga seluruh tonggak gue sampe ambles ditelan vaginanya, sesekali juga dia hanya berjungkit dibagian kepala tonggak revolusi gue aja.

Variasi goyangan yang Dosa lakukan, ditambah dengan pemandangan luar biasa yang berada di depan mata kepala gue ini, dimana kedua payudara besar Dosa bergoyang goyang mengikuti genjotannya dan gue melihat vagina Dosa yang merekah lebar karena selangkangannya menganga terbuka. Semua ini membuat gue menikmati sensasi yang luar biasa nikmat dan belum pernah gue rasakan sebelumnya.

Biasanya semua cewe yang pernah main sama gue terkesan seperti malu malu saat berhubungan intim kaya gini. Mereka ga pernah terlihat lepas layaknya Dosa sekarang.

Cewe lain biasanya seperti suka refleks menutupi payudara mereka saat gue menikmati melihat payudara mereka, tapi tidak dengan Dosa. Dia malah membiarkan payudaranya bergelayutan ke kiri dan kekanan keatas dan kebawah dihadapan gue sambil sesekali ia mainkan sendiri puting susu dan meremas sendiri payudaranya.

Saat wanita lain biasanya harus setengah gue paksa untuk membuka selangkangan mereka supaya gue bisa lebih leluasa memasukkan tonggak revolusi gue, tidak dengan Dosa. Dengan inisiatif sendiri Dosa langsung memamerkan lubang surgawinya di depan gue tadi, seperti mengundang untuk ditelusuri.

Apalagi sekarang ini, bibir vaginanya terlihat sedang melahap tonggak revolusi gue saat Dosa menggerakkan tubuhnya naik dan turun. Bulu bulu halusnya yang dicukur rapih itu terlihat menutupi bagian atas bibir vaginanya. Sesekali tangan Dosa turun ke bawah untuk memainkan vaginanya seperti orang yang bermasturbasi.

Semua itu ia lakukan sambil menatap gue dan memperhatikan gue yang sedang menikmati semua pergerakan yang ia lakukan. Dia seperti tahu banget kalo gue menikmati apa yang ia lakukan dan kayanya itu membuat dia makin bergairah.

Belum lagi suara desahannya..

“Uuuuuhhhh… Lleeerrr.. “

“Hhhhh.. HHhhh.. Enaakk Leerr.. HhhhHHh.. “

“Sssshhhaaahhh…Haahhh.. Aaaaaahh.. BeleeerrrhhhHhh“

“Mmmmmhhh…Leeerhhhh.. Aaakkhhh.. Uuuuhhh.. “

Tiap kali dia mendesah, tiap kali dia melenguh, tidak lupa dia selalu menyebut nama gue..

Bener bener sangat luar biasa berhubungan intim sama Dosa.. Dengan wajah yang cantik dan badan yang sangat sintal, Dosa juga ternyata sangat lihai bermain di ranjang..

Somehow gue udah menduga Dosa bakalan jago, tapi tetep aja ga nyangka kalo dia beneran jago, dan sejago ini..

“Enak, ler?” Tanya Dosa sambil tetap bergoyang. Ia mencondongkan badannya ke arah gue. Kedua lengannya bertumpu di dada gue dan membuat kedua payudara besarnya itu terhimpit diantara kedua lengannya. Pergerakan payudaranya yang terbatas itu semakin menambah sensasi nikmat yang gue rasakan. Gue lalu mengangguk sambil tersenyum puas menjawab pertanyaan Dosa.

“Banget, sa!” Jawab gue kemudian memegang kedua lengannya dan terus naik hingga ke Payudaranya yang bergelayutan bebas bergerak naik dan turun mengikuti goyangan Dosa. Puting susunya yang mengeras gue mainkan dengan jari jemari gue.

Dosa mendesah nikmat saat salah satu puting susunya gue pilin perlahan dengan jari gue, dan payudaranya yang satu lagi gue remas dengan telapak tangan gue hingga daging payudaranya mencuat di sela sela jari gue.

Salah satu tangannya terangkat memainkan rambut panjangnya memperlihatkan ketiaknya yang putih mulus senada dengan warna kulitnya serta mengangkat salah satu payudaranya menjadi lebih tegak dan tegang. Matanya merem melek menikmati tiap tusukan dari tonggak revolusi gue yang menohok keluar masuk karena goyangan badannya.

“Uuuuhhh.. Lllleeerr… “ Desah Dosa yang kemudian mengulum jari telunjuknya sendiri sambil menatap gue sayu.

Gue sendiri merasakan sensasi yang amat luar biasa tiap kali goyangan Dosa menekan masuk tonggak revolusi gue ini ke dalam vaginanya. Dinding vaginanya yang terlumasi oleh cairan kewanitaannya seperti memudahkan jalannya tonggak ini untuk terus masuk.

Sensasi yang ditimbulkan sangat maksimal dan wajar aja kalo mungkin baru lima menit kurang, gue udah pengen keluar.

“Sa, gue mau keluar saa!” Ucap gue saat rasa itu mulai muncul.

Tonggak revolusi gue mulai ingin berkedut tanda akan menumpahkan cairan revolusi.

Mendengar itu Dosa langsung menghentikan genjotannya dan duduk disamping pinggul gue. Tangannya dengan cepat langsung menggenggam tonggak revolusi gue dan dikocok.

Damn kocokannya..

Dosa lalu rebahan di samping gue dan mencium bibir gue sambil terus mengocok tonggak revolusi ini.

Bohong sih gue kalo ga merem melek diginiin sama Dosa.

Dosa kembali bangkit dan kali ini kedua tangannya mengocok tonggak revolusi gue. Kocokannya naik turun dan memutar, terutama di area kepala..

“Clek clek clekk clekk clek..”

Kocokan tangannya yyang semakin cepat membuat bunyi seperti sedang penetrasi tadi.

Oh shit!

Ini diaa!!

“Aaahhh.. Saa.. Saaa.. Gue keluarrr saaa!!” Pekik gue saat tonggak revolusi gue akan berkedut. Gue pejamkan mata gue untuk bersiap menikmati kenikmatan yang akan terjadi.

“Keluarin Ler.. Ayo keluarin!” Ucap Dosa terus mengocok.

“Aaaaaahhhhh!! AaaaaaahhhhHH… Hhhhhhh.. “

Tonggak revolusi gue yang sedang tegak berdiri akhirnya memuncratkan cairan revolusi yang kental ke atas.. Seperti kilang minyak saat bor nya berhasil menembus kantung minyak, semua cairan itu muncrat tanpa bisa kendalikan. Tiap kedutan tonggak ini, cairan hangat itu muncrat dan meleleh di tangan Dosa yang terus mengocok.

“Oooohhhh… Saaa.. Enak bangett!!” Ucap gue sambil tersenyum puas padanya. Dosa pun terlihat tersenyum sama gue. Kedua tangannya terus mengocok. Tidak seperti wanita lain yang risih terkena cairan itu, Dosa tampak biasa saja dan tidak jijik.

Gue berasa ngerasain ML sama Pornstar.. Gini kali yaa rasanya?

Emang sih baru sebentaran doang.. Itungannya baru Quickie lah ini..

Tapi tetep aja sensasi yang gue dapet langsung ngalahin pengalaman pengalaman sebelumnya..

“Banyak.. “ Ucap Dosa menatap cairan yang tumpah di tangannya. Tonggak gue masih berkedut kedut, tapi sudah selesai menumpahkan cairan itu. Perlahan Dosa memperlambat kocokannya hingga akhirnya berhenti

“Udah lama ya ga dikeluarin?” Tanya Dosa kemudian sambil mengelap tangannya dari cairan itu ke badan gue. Dia memperhatikan jari jemarinya yang masih terkena cairan dan kembali ia lap ke badan gue.

“Lumayan deh, Sa.. “ Jawab gue masih ngos ngosan. Wow puas banget sih gue.. Sumpah..

Dosa lalu beranjak dari kasur untuk mengambil tissue di meja dekat TV.

“Emang terakhir kapan, ler?” Tanya Dosa membelakangi gue. Bokongnya yang padat menggoda gue untuk gue cubit.

Langsung aja gue beranjak juga dari kasur menghampiri Dosa. Gue peluk dirinya dari belakang. Gue cium pelan punuk lehernya.

“Kapan yaa? Lupa, Sa.. “ Jawab gue.

Terlihat Dosa sedang mengelap tangannya lebih lanjut dengan tissue. Terlihat juga payudaranya yang tampak membusung dari atas sini. Refleks tangan gue langsung bergerak menggerayangi payudaranya dan meremasnya hingga kedua payudara itu bertemu di tengah.

“Emang elo sama Ayi, ga pernah?” Tanya Dosa melirik sedikit ke gue.

“Mmm.. “ Gue aga ragu mau ngejawab.

Iya, gue terakhir emang sama Ayi, tapi kan gue ga enak ya mau ngomong gitu ke sahabatnya.. Entah kenapa gue ngerasa kaya player aja, abis ML sama sahabatnya, sekarang gue ML sama dia.. Padahal situasinya ga gitu juga..

“Halah.. Kita udah sampe kaya gini, masih aja lo rahasia rahasiaan sama gue, ler.. “ Kata Dosa sambil mengangkat tangannya untuk membelai rambut gue.

Gue terkekeh.

“Iyaa.. Sama Ayi gue terakhir ML.. Eh ga lama abis itu dia mutusin gue.. “ Jawab gue pahit. Dosa sedikit tertegun mendengar jawaban gue.

“Oiya.. Kalian kenapa sih bisa tiba tiba putus?” Tanya dia kemudian. Gue menghela nafas gue.

“Sahabat lo itu belom move on dari mantannya.. Siapa lah itu namanya.. “ Jawab gue jujur seadanya, ga mau gue inget siapa nama mantannya itu. Dosa langsung menengok dan terbelalak matanya.

“Serius?” Tanya Dosa kaget. Gue cuma ngangguk aja.

Dosa langsung menggelengkan kepalanya. “Gue tau sih mereka masih deket.. Tapi kirain Ayi nya udah ga mau.. “ Kata Dosa kemudian sambil kembali mengambil tissue lagi.

“Yaahh udahlah.. Biarin aja berlalu.. Kaya cewe cuman dia aja.. “ Jawab gue enteng membiarkan itu berlalu. Padahal lumayan sakit juga kalo diinget. Tapi semenjak sakit diduain Rahma, gue kaya udah sedikit kebal digituin cewe.

“Maaf ya, ler.. Padahal gue sengaja nyomblangin sama temen gue biar elo move on dari Sarah.. Eehh, malah.. “ Dosa ga melanjutkan kalimatnya saking ga enak sama gue.

“Bukan salah elo kookk.. Seloow.. “ Jawab gue menenangkan dia sambil memeluknya erat dari belakang. “Tapi kalo dipikir pikir, Sarah tuh gara gara elo sih, coba elo ga kelepasan ngomong gue abis dari wisudaan Yully.. Masih jadian kali gue sama Sarah.. “ Ucap gue berandai andai.

“Aaahh.. Tuh kan eloo.. Jangan gitu dong, gue ga enak nih jadinya.. “ Kata Dosa langsung nengok.

Gue tersenyum.

“Becandaaa.. becandaa.. “ Jawab gue menenangkan Dosa.

Kita berdua sempat diam sesaat sebelum akhirnya Dosa berbalik badan menghadap gue dan langsung mengelap cairan yang tersisa di tonggak revolusi gue yang udah lemes dengan tissue tadi. Gimana ga lemes itu tonggak, ditimpa dan dilahap berkali kali kaya gitu.. Sesekali Dosa mengocok pelan tonggak itu seperti menggoda untuk menegang lagi.

“Digituin lagi ntar naik lagi lho, Sa.. “ Ucap gue melirik ke tangannya yang masih mengocok pelan tonggak gue.

“Maunyaa! Woo.. ” Kata Dosa mengejek, namun tangannya tetap tidak melepaskan tonggak gue.

Kita berdua tertawa kecil, setelah tawa kita mereda, gue langsung mencium bibirnya dengan lembut. Dosa menyambut ciuman itu dan segera mendekap gue. Setelah ciuman kita selesai, kita lalu saling menatap dan tersenyum. Lama kelamaan senyumannya mulai pudar. Tatapannya kosong. Dia lalu menyenderkan badannya ke meja di belakangnya dan melihat tissue yang ada di tangannya, menatap badannya sendiri dan badan gue.

“Gue ga nyangka kita bakalan ML, ler.. “ Ucapnya pelan sambil memainkan tissue di tangannya. Dia menatap gue menunggu respon dari gue.

“Emm—Gue juga, Sa.. Ga pernah kepikiran di otak gue kita bakalan ML.. “ Jawab gue mengiyakan perkataan Dosa. Dia tersenyum mendengar jawaban gue. Setelah itu matanya kembali berkaca kaca hingga akhirnya air matanya jatuh di pipinya. Salah satu jarinya berusaha menyekanya namun keduluan oleh jari gue.

“Saa.. Jangan sedih dong.. Please.. “ Pinta gue saat menyeka air matanya. Dosa menatap gue lalu mengangguk dan berusaha menahan tangisnya. Ia menggenggam tangan gue yang berada di pipinya dan ia tahan.

“Gue sayang sama lo, Ler.. “ Ucapnya kemudian. “Tapi rasa sayang gue sama lo cuma sebagai temen.. Gue tetep sayang sama.. Radit.. “

Air matanya kembali tumpah saat ia amengucapkan nama Radit.

Gue kaget denger Dosa ngomong sayang ke gue dan lega begitu dia bilang dia menganggap gue sebagai temen. Karena jujur, gue pun ngerasain hal yang sama.. Rasa sayang gue ke dia itu ga lebih dari temen.

Meskipun kita barusan ML, itu bukan berarti perasaan gue ke Dosa berubah.. Tadi kita ML bukan karena ingin menunjukkan rasa sayang ke masing masing, tapi murni karena nafsu birahi..

Mungkin yang bikin gue sedih adalah, gue ga bisa ngerasain lagi ML sama Dosa yang berasa kaya ML sama Pornstar. Tapi ga mungkin kan gue ngomong gitu ke Dosa..

“Ler.. Elo bisa ngerti kan?” Tanya Dosa. Tatapannya berharap gue mengangguk iya. Dan itu juga yang gue lakukan.

“Temen!” Ucap gue sambil menyodorkan jari kelingking gue kepadanya.

Dosa tersenyum lega dan menepis tangan gue. “Apa sih.. “ Ucapnya pelan.

Tapi gue tetep kukuh menyodorkan. Dosa melihat jari gue dan menghela nafasnya.

“Temen.. “ Ucapnya kemudian melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking gue. Kita berdua tertawa. Dosa tampak lega dan kemudian memeluk gue lagi.

“Udah ah.. Gue mau ke kamar mandi.. Mandi wajib.. “ Jawab Dosa sambil melepaskan pelukannya dan langsung ngeluyur ke kamar mandi. Setengah jalan menuju kamar mandi dia berhenti dan menengok ke belakang ke gue, “Mau ikut?” Tanya dia menggoda gue.

Jrit!

“Mandi aja tapi.. Ga yang lain” Lanjutnya mengklarifikasi ajakannya.

“Yaahh.. Kirain.. “ Ucap gue pura pura kecewa. Walaupun sebenernya beneran kecewa sih, tapi ga enak lah ngomong gitu..

“Huuuu.. Dasar cowooo.. Gue duluan yaa.. Elo kalo mau masuk, ga gue kunci.. “ Ucapnya lalu berlalu ke kamar mandi. Sesuai yang dia bilang, pintunya ga dikunci beneran, bahkan dibiarkan setengah terbuka. Sebenernya gue sempet ragu buat ngikutin dia masuk..

Tapi.. Masa iya gue nolak ajakan mandi bareng cewe?

Apalagi yang ngajak secantik dan sesintal Dosa..

Sebuah dosa besar kalo gue nolak..

Tidak sampai semenit setelah Dosa masuk kamar mandi, gue pun nyusul.

Bunyi shower yang menyala langsung terdengar ketika gue mendekat ke kamar mandi. Saat gue buka pintu kamar mandi gue, terlihat Dosa lagi berdiri di atas bak shower gue dan menikmati kucuran air dari shower yang menyala.

Badan gue sedikit bergidik menatap badan Dosa yang sintal itu dipenuhi bulir bulir air. Dosa terlihat sedang menyeka sekujur badannya lalu berbalik badan untuk membiarkan punggungnya tersiram air. Dia melihat gue yang terpaku di ujung pintu kamar mandi melihat dirinya yang sedang membilas badannya.

“Sini, ler.. “ Ajaknya sambil membilas rambut hitam panjangnya. Tak terlihat rasa canggung sedikitpun di wajahnya. Iya sih, kita berdua barusan abis ML dan gue udah ngeliat dia bugil, tapi melihat dia mandi itu aktivitas yang sama privat nya.

Dosa mengamati setiap langkah gue saat gue mendekati dirinya didalam bathtub. Kedua tangannya tetap saja asik terangkat untuk membilas rambutnya. Membiarkan kedua payudara besarnya itu ikut terangkat hingga dadanya seperti membusung dan menantang untuk dipegang.

“Ayo sini.. “ Ucap Dosa. Salah satu tangannya kini meraih tangan gue dan mengajak gue untuk mendekatinya hingga kita hampir berpelukan. Percikan air yang mengenai badan Dosa terpercik juga ke badan gue. Badan ini langsung gemeteran karena terkena air yang lumayan dingin.

Dosa tersipu melihat gue. “Dingin yaa?” Tanyanya tersenyum. Gue mengangguk pelan dan ikut tersenyum juga. Dosa lalu bergeser sedikit supaya gue bisa selangkah lebih dekat lagi ke kucuran shower untuk membilas badan gue dan mulai mandi.

Kita berdua saling liat liatan saat kita membilas badan masing masing. Gue menelan ludah ketika Dosa mulai membelai lembut payudaranya yang basah itu. Dosa tau gue memperhatikan payudaranya yang sedang ia usap pelan itu, “Heehh.. “ Panggilnya pelan. “Mandi.. Jangan ngeliatin yang engga – engga.. “ Lanjutnya menggoda.

Gue tersenyum malu dan menggelengkan kepala. “Badan lo bagus banget, Sa.. Sumpah.. “ Respon gue melirik mata dan payudaranya bergantian.

“Belom puas emang tadi?” Tanya Dosa melirik gue penuh arti. Gue tertawa.

“Belom laahh.. Cuman bentar udah selesai tadi.. “ Jawab gue apa adanya.

“Yeee.. Kan udah dari semalem kita begituan bukan baru tadi aja.. “ Lanjutnya sambil menyiram air yang terkumpul di telapak tangannya.

“Semalem kan gue ga inget ngapain aja.. Emang lo inget?” Jawab gue balik bertanya padanya sambil mengelap muka gue yang kuyup oleh siraman air.

Kali ini Dosa yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ga bisa ngejawab.

“Dasar lo ya anak hukum.. Bisaaaa aja ngejawab.. “ Kata Dosa kemudian. Kita berdua terdiam dan saling menatap. Untuk beberapa lama kita ga bergerak sedikitpun. Gue memberanikan diri memegang pinggang Dosa dan perlahan membelai badannya.

Sedetik kemudian bibir kita berdua kembali berpagutan.

“Hhhh.. Leerr… “ Desah Dosa di sela sela ciuman kita berdua. Bunyi kecupan bibir kita berdua beradu dengan bunyi gemericik air shower yang tumpah diatas badan kita bedua. Tumpahan air yang menetes dari ujung kepala hingga ke badan tidak lagi terasa dingin, badan kita terasa hangat oleh hawa nafsu yang muncul. Salah satu tangan gue dengan bebas menggerayangi salah satu payudara besar Dosa, memainkan puting susunya yang sudah daritadi mengeras.

Tonggak revolusi gue pun kembali berdiri.

Ciuman gue mulai turun ke lehernya. Dosa memiringkan kepalanya supaya gue bisa bebas menciumi lehernya yang putih mulus dan basah itu. Desahannya semakin menjadi ketika kecupan demi kecupan bibir gue mendarat di lehernya.

“Uugghhh, Leerr… “ Desahnya. Tangannya meremas rambut di belakang kepala gue dan mendekap gue kencang ke lehernya.

Mulut gue baru mau turun untuk bermain dengan payudaranya ketika Dosa tiba tiba mendorong gue sedikit. Gue agak kaget dan bingung ngeliat reaksi Dosa.

“Sambil mandi yuk.. “ Ucap Dosa kemudian mematikan shower lalu sedikit membungkuk mengambil sebotol sabun cair yang ada di pinggir bathtub gue. “Nih.. Sabunin gue.. “ Ucapnya sambil membuka tutup botol sabun itu kemudian menunggu tangan gue untuk dia tuangkan.

Gue mengangguk setuju dan segera mengulurkan tangan gue. Dosa lalu menuangkan beberapa tetes sabun ke tangan gue kemudian menuangkan jumlah yang sama ke tangannya. Dosa lalu langsung menyabuni dada dan lengan gue, beigtu juga dengan gue, langsung aja gue menyabuni payudara Dosa dan menggosoknya perlahan hingga kulit tubuhnya mengkilat oleh cairan sabun. Busa sabun mulai menutupi tubuh kita berdua, puting susu Dosa pun lenyap tertelan busa sabun. Namun tangan gue tetap ga berhenti memainkan payudaranya.

Sumpah puas banget megang payudara Dosa yang besar dan kenceng ini. Daging payudaranya membludak ke atas saat payudaranya gue tekan lalu jari telunjuk dan jempol gue dengan cekatan memainkan puting susunya yang makin menegang.

Ga mau kalah sama permainan gue, Dosa mengarahkan kedua tangannya ke tonggak revolusi yang udah tegak berdiri dan langsung ia kocok. Salah satu tangannya menekan bokong gue maju untuk memudahkan dia memainkan tonggak revolusi gue. Satu tangannya yang bermain di tonggak gue dengan cekatan mengocok dan membelai batang tonggak gue sambil ia sesekali memainkan kedua bola yang menggantung dibawahnya.

Karena tangan Dosa dilumuri sabun, lama kelamaan tonggak revolusi gue juga mulai lengket oleh cairan sabun itu dan mulai ada busa yang terbentuk. Busa busa itu memberikan raa perih yang anehnya juga menjadi nikmat saat tangan Dosa bergerak naik turun di sepanjang tonggak ini. Rasanya mirip mirip ketika masuk ke dalam vagina mesikipun ga seenak itu juga.

Saking enaknya, gue sampe berhenti menyabuni badan Dosa dan tenggelam menikmati rangsangan yang Dosa berikan.

Dosa lalu menepuk dada gue, “Enak ya mass?” tanyanya meledek. Gue tersenyum malu karena keenakan sendiri sampe lupa nyabunin dia. Dosa lalu berbalik badan membelakangi gue, kemudian dia menyibak rambut hitamnya ke samping memperlihatkan punuk lehernya dan punggungnya yang putih mulus.

Dia menengok ke samping untuk melihat gue yang ada dibelakangnya, “sabunin punggung gue, please.. “ Ucapnya manis.

Gue mengangguk dan segera menuangkan cairan sabun kembali dari botol dan segera mengusap punggungnya dari atas bokongnya hingga ke dekat punuk lehernya lalu melebar ke pundak dan lengannya. Tangan gue lalu menelusuri lengan bawahnya hingga ke ketiaknya dan maju ke depan menuju kedua payudaranya. Dosa melenguh pelan saat kedua tangan gue meremas payudaranya dari bawah ke atas. Dia langsung menengok ke gue dan tangan kanannya berusaha meraih kepala gue. Gue langsung menyambut wajahnya dan menciumnya dengan lembut sambil menggesekkan tonggak revolusi gue ke antara daging bokongnya yang sedikit menungging.

Salah satu tangan gue lalu turun dari payudara Dosa menuju ke area kewanitaannya. Jari jemari gue mengelus pelan bulu bulu halus di daerah vagina Dosa sebelum akhirnya turun ke area vital itu. Jari tengah gue bergerakke bawah mengikuti garis bibir vaginanya sementara sisa jari gue yang lain menekan dari kiri dan kanan.

“Aaahh.. “ Desah Dosa saat jari tengah gue mulai menyentuh klitoris Dosa dan sedikit masuk ke dalam lubang vaginanya. Gue gerakkan jari gue naik dan turun dengan tempo yang meningkat dari pelan ke cepat. Badan Dosa mulai mengeliat tak keruan saat jari gue dengan leluasanya bermain dibawah sana. Salah satu tangan Dosa menggenggam tangan gue yang berada di payudaranya sementara satu tangannya lagi berada di belakang punggungnya mengocok tonggak revolusi yang sedang bergesek di antara kedua bokongnya.

Kita berdua berada di posisi itu untuk beberapa saat. Desahan kita berdua terdengar menggema di dinding dinding kamar mandi.

“Lleeerr… Hhhhh.. “ Desah Dosa.

“Aaahh, Saa.. Enak banget.. “ Desah gue di samping telinganya.

Dosa lalu melumat bibir gue sambil tetap mendesah. Tangannya tidak berhenti mengocok tonggak revolusi gue, sama seperti tangan gue yang ga berhenti bermain dengan payudara dan vaginanya.

“Gue masukkin ya, Sa.. “ Pinta gue. Dosa dengan cepat mengangguk mengiyakan. Dia lalu membungkukkan badannya sedikit hingga bokongnya menungging di hadapan gue dan memperlihatkan vaginanya. Kedua tangannya bertumpu pada dinding di hadapannya dan menyalakan kembali shower dengan air hangat. Air itu lalu mengalir dari punggungnya membilas habis busa yang ada di tubuhnya turun ke bawah sementara tonggak gue mulai gue arahkan masuk ke bibir vagina Dosa.

Badan Dosa sedikit menggeliat ketika tonggak gue mulai masuk ke dalam vaginanya seperti ingin menyesuaikan diri.

Begitu juga gue, mencoba mencari posisi yang nyaman untuk mulai menghentakkan tonggak gue dengan teratur. Beberapa kali gue menyesuaikan posisi hingga akhirnya dapet posisi yang pas dan tonggak gue bisa gue hentakkan dengan leluasa. Seiring dengan masuknya tonggak gue ke dalam vagina Dosa, tangan gue langsung menggengam pinggang Dosa untuk menahan badannya yang berguncang agar tidak berpindah posisi.

Kita berdua lalu mulai mendesah keenakan saat genjotan gue mulai teratur. Wajah Dosa tampak memerah. Mukanya tampak merona dan sayu. Matanya merem melek tiap kali tonggak ini menghunus masuk ke vaginanya. Payudaranya yang menggantung bergerak tak karuan kesana kemari karena hentakan gue.

“Aaaahhh… Aahhh… Uuuuhhhh.. Llleeerrr.. Ennnaaaakkk.. “ Desahnya. Suaranya mulai kencang. Pinggulnya pun mulai bergoyang mengikuti irama hentakan tonggak gue sehingga tiap hentakan membawa tonggak gue masuk lebih dalam ke vaginanya.

Damn! Enak banget rasanya!!

Kita berdua bergantian mendesah kenikmatan. Suara desahan kita menyaingi suara gemericik shower yang dengan konstan tumpah dikedua badan kita.

Dosa lalu mengangkat salah satu kakinya naik ke pinggir bathtub hingga memperlihatkan vaginanya yang merekah. Tangan gue pun dapat leluasa memainkan bibir vaginanya dari depan selangkangannya sambil tonggak gue terus menghentak dengan kecepatan yang makin lama makin tinggi.

Dosa meliukkan badannya ke belakang hingga setengah badannya bisa terlihat dari samping dan tangan kanannya bertumpu di leher gue sementara tangan kirinya mencengkram dinding kamar mandi. Payudaranya yang besar terlihat jelas di mata gue bergoncang naik turun. Wajahnya yang sayu dan memerah serta matanya yang merem melek menikmati semuanya ini menambah sensasi yang gue rasakan sekarang.

“Lleer… Aahhhh… Llleerrrr.. “ Lenguh Dosa. Nafasnya mulai bertubi tubi. “Terus leeerr… “ Ucapnya setengah berteriak. “Gue mau keluaaarr… “ Ucapnya lagi dengan lirih.

Gue mempercepat genjotan gue karena gue seniri juga udah ngerasa mau keluar.

“Sama, saaa.. Gue jugaa.. “ Respon gue.

Plak plak plak plak plaakk.. Bunyi kedua badan kita yang bertemu menciptakan bunyi yang khas. Bunyi itu semakin nyaring karena badan kita berdua dibasahi air.

“Lleeerrr… Gu-ee ke-luu—Aaaarrrrhhhhhh… “ Pekik Dosa sambil merem melek. Badannya sedikit berguncang.

“Hhhhhhhh…. hhhhh… “ Desahnya lirih menikmati orgasme yang ia rasakan. Gue mempercepat genjotan gue. Kepala tonggak ini mulai terasa ingin berkedut. Apalagi saat dinding vagina Dosa kini terasa hangat oleh cairan kewanitaan Dosa yang mulai membasahi dan melumasi tonggak gue. Otot dinding vaginanya mencengkram tonggak gue dan memberikan sejuta rangsangan yang makin mempercepat rasa gue ingin keluar.

Ga lama setelah Dosa menyelesaikan orgasmenya, tonggak gue akhirnya udah ga tahan lagi buat ejakulasi.

Gue langsung mencabut batang tonggak gue dan langsung mengocok dengan tangan ini ketika akhirnya cairan itu muncrat sejadi jadinya. Cairan itu muncrat ke bokong dan punggung Dosa. Banyak banget.. Ga kalah banyak sama pas di kasur tadi.

“OoooohhhhhhhHHH!!!” Pekik gue sambil merem melek ketika tiap kedutan tonggak ini terjadi.

Beberapa saat kemudian gue ngerasa tonggak gue dipegang oleh tangan Dosa. Tampaknya dia mau bantuin gue di sisa sisa orgasme.

Saat gue melek dan ejakulasi gue selesai, gue ngerasa puas banget. Begitu juga dengan Dosa yang muka menyender di dinding depannya. Ia menatap gue dengan pandangan sayu, lemas, namun puas. Kita berdua lalu tersenyum dan tertawa.

Kita mencoba mengatur nafas yang terengah engah, dan kemudian membersihkan sisa sisa pertempuran kita dengan air. Membilas badan kita yang masih licin oleh sabun sambil sesekali berciuman.

“Thank you, Sa.. “ Ucap gue setelah kita selesai ciuman.

“Dasaarr.. Kan gue ngajak mandi, bukan ML lagi.. “ Jawab Dosa.

“Ya abisnyaa.. “ Gue mencoba menjawab.

“Abisnya apaa?” Potong Dosa.

“Sesuai yang elo bilang, mubazir kan di Buffet makan Cuma sekali doang.. Harus nambah laahh!” Jawab gue. Dosa tersenyum dan mencubit lengan gue.

“Ihh.. Itu kan elo yang bilang, bukan gue, wooo!” Ucapnya terus mengecup bibir gue. “Udah ah.. Gue mau keramas nihh.. Elo mau keramas juga?” Tanya dia kemudian.

“Engga ah.. Gue laper jadinya.. Lemes, butuh asupan gizi.. “ Jawab gue nyeleneh.

Gue lalu keluar dari bathtub dan mengeringkan badan sembari keluar dari kamar mandi, meninggalkan Dosa yang lanjut mandi.

Kemudian gue membersihkan sisa sisa pertempuran gue dan Dosa, memungut baju yang berserakan di lantai, merapihkan selimut, bantal, dan sprei kasur yang berantakan. Lalu memakai baju santai dan melirik BB gue untuk melihat ada notifikasi chat apa engga. Ada beberapa chat tapi ga ada yang penting.

Gue lalu berpakaian dan bergegas keluar kamar untuk sarapan nasi uduk langganan anak anak kosan dan segera berpamitan sama Dosa yang ada di kamar mandi dan mengajak anak kosan yang udah bangun pagi itu untuk ikut sarapan. Termasuk Tom yang mukanya masih muka bantal banget. Awalnya dia aga keberatan tapi karena gue paksa dia mau juga akhirnya tapi dengan syarat dia nyusul karena mau cuci muka dulu. Gue mengiyakan dan segera cabut bersama dua anak kosan junior yang uudah bangun.

Saat kita mau keluar, di pagar kosan terlihat sosok wanita yang yang sedang berada di deket Pagar. Sosok itu mengenakan baju kaos olahraga dan celana yoga yang cukup ketat hingga menunjukkan lekukan tubuh bagian bawahnya. Rambutnya yang hitam panjang tergerai bebas menutupi seperempat punggungnya. Ia tampak sedang berbungkuk memperhatikan pagar kosan.

Salah satu anak kosan menyenggol gue dan bertanya siapa cewe itu.

Gue menggeleng tidak tahu.

Cewe mana lagi ini?

Kita bertiga lalu berjalan menghampiri cewe itu.

Entah kenapa kita bertiga berjalan perlahan saat menghampirinya. Mungkin karena fokus kita semua sedang berada pada lekukan tubuhnya yang terceplak jelas di celan yoga wanita yang sedang membungkuk membelakangi kita ini.

Pagi pagi gini disodorin bokong kaya gitu gimana ga horny coba.. Mana gue juga masih kebayang banget sama adegan making love terdahsyat gue barusan..

Saat langkah kaki kita bertiga semakin mendekati sosok wanita tersebut, dia akhirnya tersadar akan beberapa orang yang berada di belakangnya dan otomatis menoleh.

Gue sedikit terkejut saat melihat tampang cewe itu dari samping.

“Eeehh.. Pagi, Ler.. “ Sapanya. “Halo.. Anak kosan juga kan ya?” Tanyanya lagi kepada dua orang yang bersama gue. Mereka mengangguk mengiyakan.

“P-pagi, Ka Agni.. “ Sapa gue padanya.

Ka Agni?

Jrit..

Badan dia luar biasa banget!!

Maksud gue, iya sih dia emang cantik.. Gue tau..

Tapi sama sekali gue ga nyangka dia bisa secantik ini!

Wajahnya terlihat sangat segar, kulitnya yang selain putih dan mulus juga tampak kencang.

Selama ini gue selalu melihat Ka Agni sebagai Ibu muda yang cantik ajaa..

Tapi sekarang?

Gue bisa ngeliat kalo dia itu ga tua tua banget dan keliatan masih sepantaran sama gue dan anak anak kosan.

Sekilas gue langsung terbayang bagaimana Ka Agni bugil di hadapan gue dan dia menatap gue dengan pandangan manja.

OH SHIT!!!

Ini gara gara Dosa nih gue sampe ngelamun jorok kaya gini pagi pagi..

“Aduuhh, jangan panggil ‘Mba’ dong.. Gue ga tua tua amat kookk.. “ Ucap Ka Agni menolak dipanggil ‘Mba’ oleh kedua anak kosan yang barusan berbincang dengannya.

Gue lalu jelasin ke mereka siapa Ka Agni itu. Mereka yang mungkin mikirnya Ka Agni cewe biasa dan bukan adiknya yang punya Kosan langsung tampak agak kaku dan salah tingkah setelah tau.

“Abis lari pagi, ka?” Tanya gue melihat Ka Agni yang memakai baju olahraga dan sepatu lari. Mencoba untuk ga melirik lekukan buah dadanya yang tegak dan mancung.

Dia mengangguk. “Iyaa.. Pas pulang sekalian aja lewat pager sini, eh terus ngeliatin kenapa ini pager bengkok gini yaa?” Jawab Ka Agni sekaligus bertanya heran melihat kondisi pagar.

“Lho? Iya yaa? Kenapa ini pager?” Tanya gue balik waktu ngeliat kondisi pagar yang aga bengkok di bagian tengah.

“Kaya bekas ditabrak mobil.. “ Gumam salah satu anak kosan yang berjongkok dan memperhatikan pagar itu dengan seksama.

“Iyaa.. Gue juga mikirnya begitu sih.. “ Sambut Ka Agni setuju.

Waduh?

Jangan bilang ada hubungannya sama gue lagi..

Masa iya sih semalem gue bawa mobil sampe nabrak pager? Semabok ituk..

Ooh.. Iya deng gue mabok..

“Mungkin ada mobil yang lagi muter balik terus nabrak ini pager kali ka pas mundur.. “ Kata Anak kosan yang satu lagi ga mau kalah berhipotesa.

“Hmm.. Iya kali yaa.. Mungkin sih itu.. Haduuhh.. Musti ganti pager dong ini.. “ Gumam Ka Agni. “Eh kalian mau kemana?” Tanya Ka Agni mengalihkan perhatiannya.

“O-oh.. Sarapan Ka.. Mau ikut? Nanti ada Tom juga kok.. “ Jawab gue yang tersadarkan dari lamunan.

“Pengen sih sebenernya.. Tapi engga deh.. Mau bikinin sarapan buat anak aku dulu ah, sekalian masak sendiri palingan.. “ Kata Ka Agni menolak halus, Kedua anak kosan itu tampak kaget mendengar Ka Agni udah punya anak . “Selamat sarapan yaa.. “ Kata Ka Agni bergegas masuk meninggalkan kita bertiga. Kedua anak kosan itu tampak tertegun berusaha menceran kata kata Ka Agni barusan.

“Iya Ka Agni udah nikah tapi cerai.. Anaknya udah gede lhoo.. “ Ucap gue seolah tau apa yang menjadi pertanyaan mereka..

Mereka terbelalak kaget.

“Asli ga nyangka banget dia udah punya anak!” Cetus salah satu dari mereka.

“Sama.. gue juga ga nyangka pas tau.. Masih semuda dan secantik itu ternyata udah punya anak.. “ Jawab gue. Kita lalu berjalan menuju ke tukang nasi uduk langganan untuk sarapan. Sepanjang perjalanan mereka berdua ngomongin soal Ka Agni. Dan gue jawab sebisa mungkin yang gue tau soal dia.

Seperti biasa, tempat nasi uduk langganan anak kosan selalu dipenuhi anak anak sekitar kosan yang pagi itu sedang mencari sarapan. Apalagi sebentar lagi waktu masuk kuliah, jadinya banyak mahasiswa yang udah rapih dan bersiap kuliah setelah sarapan. Harganya yang murah dan rasanya yang enak membuat warung nasi uduk ini menjadi pilihan utama kita kita sebelum memulai aktivitas.

Saat kita udah dapet tempat duduk, gue lalu ngobrol ngobrol banyak sama kedua junior kosan yang belum ada setahun kuliah di Bandung dan ngekos di kosan Bagus. Seperti biasa gue nanyain gimana kesan mereka selama hampir setahun ini di kampus dan di kosan. Ga ada yang terlalu menarik dari perbincangan dengan mereka, hanya hal hal biasa aja. Sampai kita semua selesai makan, gue akhirnya ngeh kalo Tom ga muncul muncul juga.

Si Kampret itu pasti tidur lagi nih..

Kita akhirnya balik ke kosan setelah membayar makanan kita dan membungkus satu buat Tom. Sampe di kosan gue langsung bergegas ke kamar Tom buat ngecek dia beneran tidur apa engga.

“Tom?” Tanya gue sambil membuka pintu kamarnya yang ga dikunci, berharap ngeliat Tom lagi pules tidur biar bisa gue kagetin.

Dan ternyata Tom ga tidur.. Dia malah asik main CS di laptopnya..

“Lah si kampret.. Malah CS dia.. “ Ucap gue menggelengkan kepala sambil merangsek masuk. Dia cengengesan aja melihat gue. “Ini nih gue bungkusin nasi uduk.. “ Lanjut gue menyodorkan sebungkus nasi uduk ke samping laptopnya.

“Oh taro situ aja, ler.. “ Ucapnya tanpa menoleh.

Si kampret ini kalo lagi main CS ga bisa diganggu banget dah.. Pengen gue cengin gitu, tapi gue nyadar gue juga begitu orangnya, jadi yaa.. Diem aja deh mendingan.

“Gue ke kamar yak.. Ada Dosa tuh di kamar gue.. “ Ucap gue keluar meninggalkan Tom. Dia mengangguk aja.

“Udah balik dia.. “ Jawab Tom tiba tiba. Gue yang lagi mau nutup pintu kamar dia langsung berhenti.

“Eh? Udah balik? Kapan?” Tanya gue kaget.

“Baru aja.. pas elo lagi sarapan.. “ Jawab Tom. “Emang lo ga pas pasan sama dia tadi?” Tanya Tom.

“Engga..” Jawab gue. “Yaudah gue ke atas yak.. “ Gue menutup pembicaraan dan berjalan naik ke atas.

Pas di deket kamar gue, BB gue bunyi, ada telepon.

Siapa ini nelpon gue pagi – pagi?

Biasanya yang nelpon gue jam segini kalo ga nyokap yaa..

. . . . . .

. . . .

. .

.

Yully . .

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 51 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 50)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 52)