X CLOSE
Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
Poker Online Domino QQ

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49 Start

Chapter Penultimate

Parte Três : Adagio for Strings

“Sa.. “ Ucap gue ke Dosa yang baru balik dari toilet sambil menunjukkan tissue bertuliskan nomer si waiter padanya.

“Apa tuh?” Tanya Dosa memicingkan matanya pada apa yang gue tunjukkin. “Haahh?” Pekiknya kaget ketika mulai sadar apa yang ia lihat, lalu ia menatap gue. “Dikasih beneran?? Kapaannn?? Pas gue ke toilet??” Dosa menyerbu gue dengan pertanyaan lalu meminta melihat tissue itu dengan tangannya sendiri.

Gue menggeleng sambil memberikan tissue itu, “Engga.. Daritadi pas dikasih bir udah ada ternyata.. Kitanya aja yang ga liat.. “ Jawab gue. Dosa terlihat takjub.

“Oh yaa?” Kata Dosa ga percaya.

“Serius.. Ini aja gue ngeh pas lagi liatin meja kita tadi.. “

“Samperin laahhh! Gimana sih lo?” Ucap Dosa langsung menyemangati gue.

Langsung aja gue menatap Dosa dengan heran.

Tak lama kemudian Dosa menatap gue heran.

“Eh jangan deh jangan!!” Ucapnya kemudian. “Ayi gue mau dikemanain entaaarrrr!!!” Ucapnya lagi.

“Nah itu ingeett!!” Ucap gue ketawa.

“Etapi simpen aja siapa tau di masa depan butuh.. “ Bisik Dosa lalu mencubit lengan gue. Mata gue melotot mendengar candaan nakal Dosa.

“Butuh apaan, sa?” Tanya gue masih melotot.

“Halaaahhh.. Kaya ga tau aja looo maksud gue apaa!” Jawab Dosa kemudian terdiam saat temen gue si DJ memutar sebuah lagu. “Oh my Godddd… Adagia for Strings!” Ucap Dosa kepada gue ketika Intro nya yang cukup khas terdengar . Ia lalu menggerakkan kepalanya secara perlahan mengikuti alunan lagu. Seiring instrumen lagu yang mulai terbangun, begitu juga Dosa yang terbangun dari duduknya. Matanya terpejam menghayati lagu. Badannya juga perlahan mulai bergoyang.

“Ini lagu kesukaan gue banget nih dari dulu.. “ Ucap Dosa sambil matanya tetap terpejam.

Gue cuma menganggukkan kepala gue aja sambil menenggak Red Label gue perlahan. Lalu gue minum bir gue. Ughh.. Rasa alkohol yang membakar kerongkongan gue ditambah dinginnya bir memberikan sensasi yang luar biasa di kerongkongan, lambung, dan otak gue. Langsung gue tutup mata gue untuk merasakan sensasi denyutan di kepala ini. Begitu gue buka kembali mata ini, pandangan mata gue mulai terlihat nge blur. Kepala gue juga mulai terasa ringan.

Ah ini dia.. Sensasi ini..

Semuanya terasa sangat ringan..

Dosa terlihat kembali menenggak satu shot Red Label yang disambung dengan beberapa tegukan bir. Ia lalu mengulurkan tangannya.

“Ayok, ler.. “ Ucapnya pada gue mengajak untuk berjoget di dance floor.

Gue berusaha menolak, “Ga ah.. Gue ga terlalu bisa nge dan-“

“Iiihh baweelll deehh!!” Potongnya kemudian menarik gue setengah paksa. Dan dengan setangah terpaksa juga gue menurutinya.

Dosa dengan cueknya membawa gue langsung ke depan meja DJ.

Gue harusnya merasa risih.

Ah tapi bodo amat laahh.. Kayak bakal ketemu mereka lagi aja besok..

“Oooii Beleerrr!!!” Teriak temen gue si DJ dengan cukup kencang.

Ok, mungkin masih ada kemungkinan ketemu si DJ besok, tapi yang lainnya? Nope..

Gue lalu melambaikan tangan gue kepada temen gue dan menyuruh Dosa juga untuk melambaikan tangannya. Dengan santai Dosa menurut dan langsung menghampirinya meminta temen gue memutar lagu ini dua kali. Temen gue, mungkin karena Dosa cakep juga, mengiyakan dan melanjutkan permainannya.

Dosa lalu mulai bergoyang.

Dengan lihai dia menggerakkan seluruh badannya mulai dari kepala, pundak, hingga ke pinggul.

Fak..

Goyangannya bikin pemberontakan mulai bangkit..

Apalagi ketika dia memutar badannya dan menghadap gue.

Kalo bukan punya temen.. Udah gue sikat kali..

Ia lalu kembali bergoyang sambil menatap gue dengan pandangan yang sangat menggoda iman. Kemudian dia berbisik sesuatu kepada gue.

“Tau ga kenapa gue suka lagu ini?”

“Kenapa” Gue langsung nanya balik.

“Lagunya kaya ngegambarin situasi tragis yang lagi dialamin tokoh utama.. “

“Maksudnya?”

“Iya.. Setiap kali gue denger lagu ini langsung kebayang kalo si tokoh utamanya tuh abis tertimpa situasi tragis.. Nah terus dia perlahan lahan belajar menerima situasi yang lagi dihadapin dan dia gunain buat motivasi dia ke depannya.. Kaya ‘Bodo Amat.. Gue ga mau terlarut dalam kesedihan. Ini hidup gue dan cuma gue yang nentuin mau seneng apa sedih’ gitu.. Ngerti ga lo?”

Gue menganggukkan kepala gue aja meskipun sebenernya ga terlalu ngerti sama maksud Dosa hingga akhirnya bagian Strings di lagu ini muncul. Sebuah iringan orkestra yang dengan lembut dan perlahan mengalun menggambarkan kesedihan lewat nada nada minor.

Lalu musik elektronik perlahan masuk mendampingi sang orkestra dan makin lama menghentak orkestra tersebut hingga akhirnya tergantikan sama sekali dengan suara elektronik. Saat reff akhirnya datang, nada yang dimainkan tetap sama, namun dengan instrumen yang sama sekali berbeda.

Dan akhirnya gue mengerti maksud Dosa. What a music!

Tanpa gue sadari badan gue juga mulai mengikuti ritme dan irama lagu. Dosa tersenyum senang melihat gue mulai bergerak.

“Yeaahh! Gitu doongg!!!” Ucapnya. Gerakannya semakin panas. Kedua tangannya terangkat dan memainkan rambutnya sambil sesekali bersandar pada pundak gue. Tangan gue pun mulai erat di pinggangnya. Tanpa kita sadari lama lama badan kita semakin dekat. Begitu juga muka kita berdua.

Mau ga mau kita saling bertatapan.

Wajah kita berdua semakin dekat.

Semakin dekat..

Dekat..

Dan akhirnya kedua bibir kita saling bertemu.

Untuk sepersekian detik gue menikmati senyuman ini hingga sadar kalo yang gue cium ini pacarnya temen gue.

“Sa.. Sorry gue ga bisa.. Radit.. “ Ucap gue menolak. Dosa menaruh jarinya di bibir gue meminta gue berhenti ngomong.

“Barusan gue ke toilet nelpon dia buat putus, ler.. “ Ucapnya enteng menatap gue kemudian menatap bibir gue.

Mata gue sedikit terbelalak. Ada rasa senang kaget yang dengan cepat menjalar ke otak gue saat mendengar dia putus. Dan secepat itu juga gue menyambar bibirnya.

Kita berciuman dengan penuh gairah saat itu hingga akhirnya Dosa seperti tersadar.

“Ayi?” Tanya dia.

Gue tersenyum ringan.

“Kemaren gue putus, sa, sama dia, temen lo nyeling-“

Belom sempet gue menyelesaikan kalimat gue, Dosa udah kembali menyambar bibir gue.

Ugghhh…

Kepala gue kembali terasa pening setelah mengingat apa yang terjadi semalem.

Apalagi saat gue melihat Dosa yang masih dengan polosnya tertidur di samping gue yang menjadi konfirmasi atas apa yang gue takutkan terjadi berikutnya.

Jrit.. Ler..

****** lo, asli..

Bangke.. Gara gara minum jadi begini..

Gue ngeliat sinar matahari pagi yang masuk dari jendela kamar gue. Entahlah ini jam berapa.. Tapi kalo ngedenger bunyi kicauan burung, kayanya masih pagi banget..

“Aahh.. Leeer.. “ Bisik Dosa setengah mendesah saat gue dari belakang meremas kedua payudaranya yang besar itu. Kita berdua berada di dalam salah satu booth toilet. Entah bagaimana caranya kita berdua udah sampe disini.

Gue menciumi samping leher dosa yang putih bersih dan masih wangi parfum. Kemudian ciuman gue naik ke pipi dan telinganya sebelum akhirnya Dosa menghadapkan wajah gue dan kedua bibir kita bertemu.

Kedua tangan gue masih dengan bebas memainkan kedua payudaranya yang kenyal banget di telapak tangan gue. Dengan gerakan meremas gue mainkan payudaranya ke atas dan kebawah.

Dosa lalu berbalik badan hingga kita saling berhadapan dan kita kembali berciuman.

“Sluurrpphh.. Cuupp… Sssshhh.. Ahhhh… “ Sekuat tenaga kita berdua berusaha menjaga agar suara ciuman dan nafsu birahi kita tidak keluar dari booth toilet.

Dengan cepat gue mempeloroti baju semi dress Dosa lewat kedua pundaknya hingga jatuh ke pinggangnya memperlihatkan Bra hitam nya yang hampir tidak bisa menampung payudaranya yang besar itu.

Kita berdua sempet bertatapan sebentar. Gue melirik ke dada Dosa sebentar kemudian berbalik menatapnya dan tersenyum. Begitupun juga dengan Dosa. Dia lalu dengan inisiatifnya sendiri melepas branya.

Dengan degup jantung yang berdebar tinggi gue menantikan bra itu terlepas.

Pada saat terlepas, perhatian gue langsung tertuju pada kedua payudaranya yang besar itu. Dengan puting susu yang berwarna coklat muda, berbanding kontras dengan putih mulus kulitnya.

Gue melirik Dosa yang sedari tadi memperhatikan gue yang menikmati indahnya kedua payudaranya itu. Dia lalu meraih leher gue dan langsung mencium bibir gue. Salah ssatu tangannya lalu menggiring tangan gue untuk memainkan salah satu payudaranya.

Gilak.. Terasa sangat kenyal. Ranum. Liat. Ah entahlah bagaimana cara menggambarkan payudara Dosa dengan tepat.

Selama ini gue merasakan payudara yang begitu besar ya punya si Wulan dulu.. Tapi emang punya Dosa ini jelas mengalahkan semuanya.

Ga masalah sih sebenernya gue dengan cewe yang ukuran payudaranya kecil. Tapi bisa dapetin yang ukurannya segede ini, emang memuaskan banget.

Genggaman tangan gue terasa penuh. Kelima jari gue sampe harus mekar selebar mungkin untuk bisa mencakup seluruh cup salah satu payudara Dosa.

Apalagi ditambah dengan sensasi ciuman yang penuh nafsu liar ini. Mulut kita berdua saling berpagutan dengan lincah. Kedua lidah kita bergantian beradu. Aroma alkohol dan bir tercium cukup pekat dari mulut ini.

Desahan Dosa yang pelan seperti rintihan tiap kali gue mencoba memainkan puting susunya yang mulai mengeras membuat nafsu birahi gue semakin memuncak.

Ciuman gue kemudian perlahan turun ke bawah. Gue ciumi pipinya, lehernya yang putih, kemudian turun ke bawah dagunya. Desahan Dosa kembali terdengar namun dia dengan cepat menahan volume suaranya.

Ciuman gue terus turun hingga akhirnya sampai ke daerah dada. Daging payudaranya yang empuk dan kenyal, hingga akhirnya ke puting susunya.

Dosa mengerang nikmat saat puting susunya gue mainkan dengan lidah gue. Apalagi waktu gue gigit pelan dan gue tarik dengan gigi gue. Dia tampak menutup matanya rapat berusaha menikmati rangsangan itu tanpa mencoba mengeluarkan suara.

Cukup lama gue bermain dengan payudaranya hingga akhirnya Dosa berbisik.

“Masukin, ler.. “

Ugh..

Kembali lagi rasa pening itu datang.

Itu yang gue inget terakhir kali dengan Dosa malam itu. Setelahnya semuanya terasa kabur.. Seperti potongan potongan adegan yang muncul di ingatan gue secara acak.

Gue duduk di toilet dan Dosa bermain dipangkuan gue..

Gue mengenalkan Dosa ke temen gue si DJ.

Dosa mematikan handphonenya karena ga mau ngangkat telepon dari Radit.

Bagaimana gue membantu mengangkat Dosa naik tangga kosan gue.

Dosa gue gandeng erat saat kita ngeloyor keluar dari toilet sambil tertawa.

Hingga akhirnya gue terbangun dengan rasa sakit di kepala yang udah lama banget ga gue rasain.

Gue mencoba memijat mijat dahi kepala gue sambil menutup mata. Gue terduduk di pinggir kasur dengan selimut menutupi tubuh bagian bawah gue. Di lantai gue ngeliat baju gue dan Dosa terlempar gitu aja.

Udah ga diragukan lagi gue main lagi sama Dosa di kasur ini..

Jrit lah.. Semoga aja gue main aman, ga ngeluarin di dalem..

“L-ler?” Suara Dosa yang parau terdengar.

Oh shit.. Here we goo..

“LER??” Tanya Dosa yang mulai sadar dirinya ada dimana sambil memandang gue dan dirinya yang ga pake baju. Dirinya yang panik langsung menarik selimut untuk menutupi dadanya.

“Sa.. Tenang dulu.. “ Gue langsung berusaha menenangkannya.

“Astagfirullah.. “ Pekiknya dengan suara bergetar. Kedua tangannya langsung menutup mukanya.

“Sa.. “ Gue mencoba terus untuk menenangkannya dan mencoba menggenggam lengannya. Tapi Dosa dengan cepat menghindar saat tangan gue menyentuhnya.

“Ler, please bilang kita ga ngapa ngapain.. “ Ucapnya dari balik kedua tangannya.

Fuck.. Gue harus jawab apa?

“Sa.. “ Ucap gue mencoba memulai menjawab.

PLAK!

Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi gue dari Dosa.

Gue kaget banget dan ga bisa bereaksi apa apa.

PLAK!!

Tamparan kedua yang jauh lebih keras kembali menghantam pipi gue.

PLAKK!!

Tamparan ketiga mendarat.hingga membuat wajah gue berpaling.

Rasa sakit dan perihnya tercampur dengan rasa pening di kepala gue ini membuat emosi gue naik. Namun gue langsung menahan rasa itu supaya ga makin membuat runyam suasana.

Gue lalu mencoba menatap Dosa yang menatap gue penuh dengan amarah. Tatapan kedua matanya begitu tajam meskipun tampak air mata membasahi pelupuk matanya hingga ke pipi. Tidak ia pedulikan lagi selimut yang melorot memampangkan kedua payudaranya.

“Gue jelasin bentar yaa.. “ Ucap gue pelan dengan nada yang selembut mungkin supaya ga menyulut emosinya.

Tangan Dosa kembali berancang ancang untuk menampar gue dan begitu gerakan itu terjadi, gue dengan sigap langsung menangkap tangannya dan gue tahan.

“Lepasin!” Perintah Dosa, tangannya memberontak ingin lepas dari genggaman gue sementara tangan yang satunya lagi meraih tangan gue yang mencengkram tangannya. “Lepasin!” Ulangnya dengan nada lebih tinggi.

“ENGGA!!” Emosi gue akhirnya ga bisa gue jaga lagi. “GA BAKALAN GUE LEPAS SAMPE ELO TENANG!!” Bentak gue dengan keras sambil dengan kasar menunjuknya.

Dosa tersentak melihat gue yang naik pitam. Ia lalu membuang mukanya dan mencoba menahan tangis serta air mata yang terus membasahi pipinya. Bibirnya bergetar karena menahan tangis. Tangannya yang ga gue genggam mengelap air matanya.

Melihat Dosa yang rapuh kaya gitu, emosi gue langsung ilang. Gue melepaskan genggaman tangan gue dari tangannya dan mencoba mengatur nafas.

Dosa tampak kembali menarik selimut untuk menutupi kembali payudaranya.

“Sorry, sa.. Gue ga maksud bentak elo kaya gitu.. Gue kelewat emosi tadi.. “ Ucap gue meminta maaf.

Gue lalu memberanikan diri memeluk Dosa dan tangisannya lalu pecah saat gue peluk.

Baru kali itu gue ngerasa bersalah banget. Gue udah janji ke Radit buat jaga Dosa, baru sehari dia tinggal langsung begini jadinya..

Gue mengusap dan membelai rambut dan kepala Dosa untuk menenangkannya dari tangis. Dan perlahan Dosa akhirnya memeluk gue juga dan terus menangis.

“Maafin gue, sa.. “ Bisik gue padanya terus menerus ke telinganya. Suara gue juga terdengar bergetar. “Harusnya gue bisa nahan diri.. Harusnya gue bisa nahan diri.. “ Ucap gue kemudian dan mempererat pelukan gue.

Untuk beberapa lama Dosa menangis di pelukan gue. Perlahan lahan isak tangisnya berhenti. Gue mencoba mengusap punggungnya dan membelai rambut panjangnya yang sedikit berantakan.

Terdengar Dosa mengatur nafasnya. Sepertinya tangisnya udah mereda.

Ga lama kemudian dia melepaskan pelukannya, begitu juga gue. Lalu dia menatap gue. Matanya masih sembap dan basah oleh air mata.

“Kok bisa sih, kita.. “ Ucapnya bertanya tanya. Ia menggelengkan kepalanya seperti menyesali apa yang terjadi.

“Emang elo sama sekali ga inget, sa?” Tanya gue. Dosa menggeleng pelan.

“Aw.. Pusing banget kepala gue.. “ Ucapnya. “Kita minum banyak banget ya semalem?” Tanyanya lagi.

“Yaa.. Lumayan deh, Sa.. Absolut Vodka, Red Label, Bir.. Abis itu gue ga inget kita minum apa lagi.. “ Jawab gue berusaha mengingat.

“Bisa lo ceritain ga, kenapa kita bisa sampe begini?” Tanya Dosa penasaran.

Gue lalu mencoba nyeritain semuanya yang gue inget dari pertama kita nyampe disana dan bermain Truth or Dare. Dosa bilang dia masih inget sampe disitu. Dia juga masih inget waktu gue nge Dare dia buat bikin gue pengen nyium dia. Tapi setelah itu semua mulai samar samar.

Gue ceritain deh tuh soal kita yang mulai minum campur bir. Ngobrolin Sisi, sampe ke nomer si waiter yang ternyata ada di tissue. Disitu Dosa mulai ga inget.

“Gue inget kita.. nge-dance?” Tanya Dosa ragu saat mengingat ingat kembali. Gue mengangguk.

“Iya, elo nyeritain soal lagu kesayangan lo.. “ Jawab gue.

“Adagia for Strings, ya?” Tanya Dosa.

“Iya.. “ Jawab gue.

“Terus? Kita ngapain?” Tanya Dosa penasaran.

Disini gue agak ragu buat ngelanjutin. Gue belom mau bilang kalo dia mutusin Radit. Bisa panik dia.

“Tiba tiba kita ciuman, sa.. “ Jawab gue mencoba melewati bagian Dosa mutusin Radit. Dosa juga tiba tiba kaya keinget sesuatu.

“Oh my Godd.. Gue inget.. “ Ucapnya sedikit panik. “Gue inget elo ngomong apa gitu yang bikin gue tiba tiba jadi pengen nyium elo, ler.. “ Lanjutnya berusaha mengingat apa yang gue omongin.

“Gue bilang ke elo kalo gue sama Ayi putus, sa.. “ Jawab gue pelan. Mendengar ini mata Dosa langsung terbelalak seperti tidak percaya.Namun akhirnya ia seperti inget semuanya.

“Iya, ler.. Karena itu.. Oh my Godd.. Kalian kenapa putus sih.. “ Ucap Dosa lemas. “Elo harusnya nyegah gue, ler.. Elo harusnya ingetin kalo gue cewe orang.. “ Lanjutnya mencoba menyalahkan gue.

“Iya.. Gue sempet nolak.. “ Jawab gue.

“Terus?” Tanya dia.

Gue menghela nafas gue. Gada jalan lain.. Gue harus jelasin kalo dia udah putus sama Radit.

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 49 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 48)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 50)