X CLOSE
Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
Poker Online Domino QQ

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30 Start

Sarah

Lust, Caution Part.II​

“Sekarang biar kamu lebih percaya lagi.. Gimana kalo kitaa.. “ Gue ga menyelesaikan kalimat gue, tapi gue melirik Sarah dengan seribu makna. Lalu gue mendekatkan wajah gue ke muka Sarah dan mencium bibir Sarah.

Sarah dengan perlahan menatap gue dan membiarkan wajah gue mendekat ke wajahnya.

Tidak ada respon darinya ketika kedua bibir kita bertemu. Sarah hanya diam saja meskipun gue udah menciumi bibirnya dengan penuh semangat. Tapi dia juga ga menolak ciuman gue, sepertinya dia masih larut dengan pikirannya akan Yully. Gila ya.. Semakin lama dia semakin mirip sama Sisi. Sewaktu dulu gue jadian sama Sisi, dia juga kurang lebih bereaksi kaya gini kalo mikirin gue dan Yully yang deket banget. Bedanya, Sisi ga terlarut dalam pemikiran itu, mungkin karena dia udah kenal gue lama juga kali yaa.. Jadinya dia bisa ngeliat sendiri kalo gue dan Yully emang bener bener temenan selama ini.

Nah disitulah bedanya Sarah dengan Sisi. Sarah baru kenal gue, bahkan dia pun kenal gue di waktu gue lagi makan malem berdua sama Yully. Masih seger di ingetan gue gimana Sarah agak keberatan wakktu gue ajak dia kenalan karena Sarah menyangka gue lagi makan malem sama cewe gue. Udah dari dulu semua cewe yang deket sama gue selalu gue kenalin ke Yully untuk menghindari pemikiran kaya Sarah gini. Tapi kok Sarah masih aja ga percaya.. Heran gue..

Apa karena..

Ah ga mungkin lah..

Ya kali deh Yully suka sama gue..

Kalopun dia beneran suka, kenapa baru sekarang?

Apa bedanya gue yang dulu dengan yang sekarang?

Apa jangan – jangan.. Yully dari dulu..

Aduh ini lebih ngaco lagi..

Ga mungkin lah itu, ler..

“Sayang?” Suara Sarah membuyarkan lamunan gue. “Kok diem?” Tanya Sarah.

“Eh? Mmm.. Engga.. Abisnya kamu daritadi juga diem aja sih.. aku bingung jadinya harus ngapain.. “ Jawab gue setengah panik. Ga mungkin banget gue bilang ke Sarah kalo gue lagi mikirin Yully tuh suka apa engga sama gue. Bisa putus saat itu juga.. Kan ga lucu aja gitu ada orang yang putus di bath tub kamar mandi kosannya, disaat keduanya lagi bugil dan saling bertindihan badannya.

Gue lalu merasakan kecupan lembut di pipi gue. Sarah rupanya mulai bergerak mencium gue. Tangannya yang tadinya melingkar di leher gue kini mulai turun ke dada gue yang setengahnya tenggelam di dalam air. Bibir Sarah terus menyapu dari pipi gue ke belakang menuju daun telinga. Digigitnya dengan lembut daun telinga gue hingga menimbulkan rangsangan yang mirip seperti sengatan listrik kecil ke otak gue. Terdengar Sarah yang terkekeh di telinga gue setelah melihat reaksi gue yang sedikit kaget tadi. Sementara itu tangannya terus turun melewati perut gue dan akhirnya sampai ke tonggak revolusi yang perlahan lahan menegak. Digenggamnya tonggak itu kemudian tangannya bergerak naik dan turun secara perlahan.

Tangan gue juga ga mau kalah. Tangan kanan gue langsung bergerak bergerilya menuju ke gunung Sarah yang puting susunya terlihat sedikit menyembul dari permukaan air. Gunung itu langsung gue remas hingga gumpalannya berada sepenuhnya di telapak tangan gue. Lalu tangan kiri gue memegang belakang kepala Sarah agar kepalanya menengadah menghadap gue dan kita berciuman kembali. Kali ini ciuman itu berlangsung lama dan penuh gairah. Sarah membuka kedua bibirnya dan membiarkan lidah gue masuk ke mulutnya. Lidahnya juga masuk ke dalam mulut gue dan seperti beradu dengan lidah gue. Lumatan kedua bibir kita tidak kalah bergairahnya dengan pergerakan kedua tangan kita.

Tangan Sarah semakin lama semakin kencang mengocok tonggak revolusi gue sampai membuat air di bathtub berkecipak. Tangan gue pun dengan semangat menggerayangi payudara Sarah yang menggantung di dadanya. Jari gue dengan cekatan memainkan puting susu Sarah yang sudah mengeras. Areolanya juga mengeras sehingga seperti berbintik – bintik. Sarah selalu mendesah ketika gue sentuh ujung puting susunya dengan pelan.

“Aaahhhh.. “ Desah Sarah pelan. Nafasnya yang hangat juga bisa gue rasain menerpa wajah gue ketika dia mendesah.

Gue lalu menidurkan Sarah sehingga kini kita berganti posisi, gue berada di atas Sarah dan dia di bawah. Riak air bergerak dahsyat ketika kita bertukar posisi hingga membuat arus kecil yang memantulkan kedua badan kita ke depan dan kebelakang. Kita berdua saling tertawa ketika kita berusaha menahan arus tersebut dan menstabilkan kedua badan kita. Payudara Sarah terus bergoyang karena diterpa arus air itu dan membuat nafsu gue semakin menggebu – gebu. Segera gue benamkan wajah gue ke dada Sarah. Mulut gue langsung menyerbu payudara Sarah dan gue mainkan lidah gue di sekitaran puting susu Sarah. Sesekali juga gue gigit pelan puting susunya kemudian gue tarik keatas hingga terlepas sendiri dari gigitan gue.

“Aawwhh.. Sayaang.. Geli.. “ Ucap Sarah sembari mendesah.

Kedua tangan Sarah kini kembali melingkar di leher gue dan memainkan rambut gue. Sementara tangan gue menopang badan gue di sandaran bathtub dibawah ketiak Sarah hingga ke belakang kepala Sarah. Secara bergantian gue mainkan kedua dada Sarah yang dibasahi oleh bulir bulir air dan terkadang tenggelam oleh air yang bergerak.

Jir.. boleh juga nih main di bathtub gini.. Kenapa ga pernah kepikiran ya sama gue sebelomnya?

“Sayang.. Aku masukkin ya?” Tanya gue kepada Sarah.

Sarah yang lagi merem melek segera mengangguk lalu melebarkan kedua pahanya ke kiri dan ke kanan, kedua telapak kakinya bersandar di pinggir bathtub hingga selangkangannya ngangkang selebar lebarnya.

“Pe-pelan pelan Sayang.. “ Pinta Sarah sambil melihat ke selangkangannya yang terbenam di air. Gue menuruti permintaan Sarah. Perlahan – lahan tonggak ini bergerak mendekat ke Vagina Sarah. Gue bisa merasakan kepala penis gue ini sudah bersentuhan dengan bibir vagina Sarah. Gue melihat ke bawah seolah bisa melihat kemana penis gue pergi. Yang terlihat justru kedua badan gue dan Sarah yang berbayang – bayang terbias di dalam air yang beriak. Sekilas gue bisa melihat tonggak ini sudah berada di jalur yang tepat dan tinggal joss aja. Tapi saat gue gerakkan maju ke depan seperti meleset.

Gue langsung gunakan tangan gue untuk menahan penis gue yang bergoyang goyang terkena arus air. Lalu gue secara perlahan memegang vagina Sarah. Dia tampak sedikit kaget saat jemari gue memegang bibir vaginanya.

“Gelii iihh.. “ Ucapnya centil sambil mencoba menepis tangan gue yang masih membelai bibir vaginanya.

“Soalnya dari tadi mau aku masukkin ga bisa bisa nih, sayang.. “ Ucap gue polos. Sarah terlihat bingung.

“Ga bisa gimana sayang?” Tanya dia heran. Lalu dia tertawa. “Ketahuaann belom pernah niihh ihihihii.. “ Ujarnya sambil ngikik tertawa. Gue mencoba memalsukan tawa gue. Bodo amat deh gue disangka masih perjaka. Dia ga perlu tau gue sama mantan gue ngapain aja. Ujung ujungnya juga dia pasti tau sih, tapi kan at least ga sekarang juga dia harus taunya.

Tawa Sarah lalu perlahan sirna.

“Ka-kamu beneran belom per-pernah?” Tanya Sarah melihat gue hati – hati.

“Kenapa sayang? Kamu udah pernah emang?” Gue balik nanya.

Sarah lalu ga ngejawab.

Hmm.. ternyata Sarah ga sepolos itu juga.. Udah pernah juga dia ternyata. Kalo dia belom pernah, dia ga akan sungkan ngejawab pertanyaan gue.

“Sayang, beneran nih aku tanya.. kamu belom pernah?” Tanya Sarah agak takut.

Gue akhirnya tersenyum. “Engga koo.. Aku udah pernah.. “ Jawab gue santai. Yaudalahya, gue kasih tau aja sekarang kalo gue udah pernah..

Sarah tampak lega mendengar jawaban gue. “Oohh.. pernah toh kamu.. “ Ucapnya pelan. “Sama siapa?” Tanya Sarah kemudian.

“Eiit.. Stop.. Aku juga ga nanya kan kamu udah pernah begituan sama siapa? Nanti aja bahasnya yaahh.. “ Ucap gue menghiraukan pertanyaan Sarah.

Sarah menurut dan kembali bersiap melanjutkan yang daritadi tertunda ini. Sarah lalu membantu gue dan mengarahkan penis gue masuk ke bibir vaginanya. Gue juga merasakan bentuk lubang yang familiar di ujung kepala penis gue ini. Perlahan lahan gue dorong tubuh gue ke depan.

Ugh, Vagina Sarah terasa sempit namun juga mudah untuk masuk. Mungkin karena terendam di dalam air juga kali ya jadi terbantu oleh air. Sarah menahan desahannya ketika pinggang gue mulai bergerak maju mundur dengan pelan. Damn enak banget.. Suara air yang berkecipak karena gerakan pinggang gue juga memberikan sensasi tersendiri dari yang biasanya hanya suara per di ranjang yang bergenjot sedemikian rupa.

“Uuhhh.. Sayang.. Enak.. “ Ucap Sarah perlahan sambil menaruh kedua tangannya di pundak gue.

“Sama sayang, aku juga enak nih.. “ Jawab gue dan terus menggenjot pinggang gue semakin lama semakin kencang. Riak air pun semakin tak menentu. Sarah juga mulai menggoyang goyangkan pinggulnya untuk menambah rangsangan yang ia terima. Desah nafasnya juga mulai memburu. Wajahnya yang sedikit basah oleh air juga semakin merona. Gue ngeliat Sarah merem melek kaya gitu justru jadi makin nafsu dan semakin kenceng menggenjot pinggang gue.

Saking kencengnya gue ngedorong Sarah sampai – sampai badannya tergeser ke atas dan kebawah hingga membuat arus air di bathtub gue timbul lagi dan menerpa tubuh kita berdua. Begitu arusnya menyeret ke ujung bathtub yang berlawanan, tanpa kita berdua sadari badan Sarah semakin lama semakin terendam oleh air. Awalnya permukaan air berada di bawah kedua payudara Sarah. Lalu mulai naik hingga menutupi puting susu Sarah, hingga akhirnya sekarang ini Sarah sudah terendam hingga lehernya.

Karena terbawa nafsu, kita berdua ga memperdulikan itu semua.. Justru menjadi sensasi tersendiri ketika pergerakan kita berdua jadi sedikit melambat karena berada di dalam air. Memegang sekujur tubuh Sarah yang berada di dalam air memberikan rangsangan tersendiri buat gue.

“Uggh gleekk.. “ Sarah tampak tak sengaja menelan air bathtub dan langsung spontan menaikkan mukanya keatas permukaan air. Wajahnya keliatan kaget dan kedua tangannya langsung mengelap mukanya yang sebagian telah basah oleh air. Gue juga langsung menghentikan genjotan gue.

“Kamu kenapa, sayang?” Tanya gue bingung.

“Ketelen air, sayang.. “ Ucapnya sedikit enek dan membuat gue tertawa. Sarah juga ikut tertawa. Pengalaman yang sangat lucu..

“Sini sayang aku angkat.. “ Ucap gue langsung mengangkat badan Sarah dan gue dudukkan di pangkuan gue sehingga kita saling berhadapan. Air mengalir deras dari sepanjang tubuhnya ketika gue angkat dan sebagian banyak jatuh ke badan gue. Sarah membenarkan rambut basahnya yang berurai berantakan menjadi lebih teratur lagi.

Melihat wanita mengikat rambut disaat bajunya lengkap saja sudah medesirkan nafsu gue. Apalagi kini wanita itu tidak mengenakan benang sehelaipun dan badannya basah kuyup oleh air yang mengalir di tiap lekuk tubuhnya mulai dari leher, turun ke tulang belikatnya, lalu mengalir diantara lekukan payudaranya hingga akhirnya ke perut dan jatuh ke permukaan air. Benar – benar menambah gairah libido gue yang daritadi sedang tersalurkan. Tubuhnya terlihat mengkilap karena basah oleh air dan payudaranya yang berada di depan muka gue juga menantang untuk dimainkan.

Segera saja gue benamkan kepala gue ke antara celah di dua payudaranya Sarah hingga kedua pipi gue bersentuhan dengan kulit payudara Sarah. Salah satu tangan gue menopang punggung Sarah sementara yang satu lagi dengan bebasnya memainkan payudara Sarah.

“Aku masukkin lagi ya sayang.. “ Ucap gue setelah puas memainkan payudaranya. Sarah mengangguk lalu mengubah posisi duduknya hingga menjadi berjongkok. Gue lalu mengarahkan tonggak revolusi gue ini supaya bisa langsung masuk.

Perlahan Sarah mulai menggerakkan pinggulnya turun dan gue bisa ngerasain tonggak revolusi gue masuk ke dalam vagina Sarah. Muka kita berdua saling berdekatan dan mata kita saling bertatapan. Sarah tersenyum manis kemudian mencium bibir gue dan mulai menggoyang pinggulnya.

“Aaahhh.. “ Desah Sarah saat pinggulnya konstan bergerak ke atas dan kebawah.

Goyangan Sarah perlahan tapi pasti mulai meningkat.

“Saa..yaaaanngg… “ Desah Sarah mulai merem melek.

Kali ini goyangan pinggul Sarah sudah semakin kencang dan membuat permukaan air berkecipak setiap kali pinggul Sarah naik dan turun. Sensasi yang gue rasakan di penis gue juga ga bisa dijelaskan lagi dengan kata – kata.

“Aaahh.. “ Erang gue tanpa sadar saking keenakannya. Sarah tertawa melihat erangan gue.

“Enak sayang?” Tanyanya sambil tidak menghentikan goyangan pinggulnya itu. Gue Cuma mengangguk aja. Takut dengan berbicara malah jadi menghilangkan rangsangan itu.

Melihat anggukan kepala gue, Sarah semakin bersemangat menggoyang pinggulnya. Kali ini ga Cuma keatas dan kebawah aja, tapi juga berputar dan menekan pinggang gue dengan kencang hingga seluruh penis gue ambles ke dalam vaginanya.

“Sa-sayang.. Bentar lagi aku mau ke-keluar.. “ Erang gue pelan. Jrit enak banget asli!

“Iya sayang.. Bilang aja kalo udah mau keluar mau keluar.. “ Jawab Sarah sambil mendesah di samping telinga gue. Kita berdua udah berpelukan dan Sarah menyenderkan kepalanya di samping kepala gue. Pinggulnya masih bergoyang dengan cepat dan teratur.

Jirr.. ini dikit lagi nih mau keluar nih.. Ga nyampe semenit lagi keluar..

“Eeehhh!” Ucap Sarah tiba – tiba dan langsung menghentikan goyangannya dan membuat gue kaget, bingung, dan kentang.. Ia lalu setengah berdiri hingga tonggak revolusi gue terlepas dari vaginanya dan kemudian kembali duduk di pangkuan gue, menghimpit tonggak revolusi ini diantara perut gue dan vaginanya.

“K-kenapa, sayang?” Tanya gue bingung. Duh dikit lagi keluar kenapa mendadak dia berhenti?

“Sebentar.. “ Ucap Sarah ga menjawab pertanyaan gue dan malah mendorong badan ini ke belakang hingga gue jadi setengah terlentang. Gue lalu menumpu badan gue dengan kedua tangan sambil memperhatikan apa yang akan Sarah lakukan. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih sisi keran bathtub. Gue perhatikan terus kemana tangannya menuju.

Ternyata ke rantai penyumbat air..

Dengan satu gerakan cepat Sarah mencabut penyumbat air itu hingga membuat air perlahan tapi pasti mengering dari bathtub sementara gue masih memandangi Sarah dan pusaran air yang berputar masuk ke dalam lubang bathtub gue dengan bingung. Kenapa tiba tiba Sarah ngeringin Bathtub?

“Aku pernah baca kalo Sperma itu bisa tahan di air selama lebih dari lima menit.. “ Ucap Sarah akhirnya mulai menjawab. “Kamu kan udah mau keluar kan tadi?” Sarah lanjut ngomong sambil bertanya.

“I..iya.. “ Jawab gue masih bingung.

“Nah kamu ga mungkin ngeluarin di dalem itunya aku kan? Pasti kamu keluarin di luar.. “ Kata Sarah. Sepertinya gue mulai ngerti maksud dia.

“Ooohh.. Kamu takut sperma yang aku keluarin di air itu ga mati dan justru ngerembes masuk ke itunya kamu ya, sayang?” Tanya gue memastikan bener ga itu maksud Sarah. Dan bener aja, Sarah mengangguk.

“Iya, sayang.. Kan ga lucu aku hamil padahal kamu keluarin di luar.. “ Jawab Sarah bercanda. “Nah kalo udah kaya sekarang, baru deh aman.. “ Lanjut Sarah sambil melihat dasar bathtub gue yang udah hampir ga ada airnya.

“Aman buat ngapain, sayang?” Tanya gue sok ga ngerti.

“Gausah sok polos deh kamuu.. “ Ucap Sarah spontan dan mencubit pipi gue gemes. Ia kembali mencium bibir gue dengan lembut dan semakin lama semakin liar ciuman itu. Tangannya berada di tonggak revolusi gue dan ia kocok juga dengan lembut.

Gue lepasin ciuman Sarah. “Sayang, pindah ke kasur aja yuk.. Ini bathtubnya licin.. lagian ntar masuk angin ah kelamaan disini.. “ Ucap gue.

Udah cukup lah main mainnya. Di kasur gue hajar abis abisan.

Siapa suruh bikin gue kentang..

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 30 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 29)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 31)