X CLOSE
Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
Poker Online Domino QQ

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14 Start

Rahma dengan agresifnya mendorong badan gue hingga gue jatuh terlentang di kasur, badan gue membal beberapa kali di kasur membuat buti butir air yang masih tersisa di badan gue mengucur dan sedikit membasahi kasur gue.

Rahma tersenyum penuh godaan saat ia lalu memegang kedua lutut gue dan kemudian membuka lebar lebar sampe gue sedikit ngangkang. Rahma lalu berlutut dan tangannya menyusuri paha gue sampai ke pangkal paha. Semakin jari jemarinya mendekat ke daerah revolusi di pangkal paha gue ini, semakin banyak rangsangan yang datang ke otak gue dan membuat tonggak revolusi gue perlahan lahan berdiri.

Gue melihat ekspresi Rahma yang sangat binal itu dibalik tegaknya tonggak revolusi gue. Tangannya sementara itu sudah makin dekat dan akan segera bergabung dengan revolusi. Keadaan makin genting.. Tonggak revolusi gue sampai berkedut kedut saking sudah maksimalnya revolusi yang terjadi.

PAK!

Tiba tiba Rahma menepak kedua paha gue dengan kencang dan membuat gue tersentak kaget. Bingung dengan maksud Rahma.

“Hehehe, sakit yaa?” Tanyanya yang kemudian berdiri dan bertolak pinggang melihat gue yang masih kebingungan. Sinar matahari yang masuk lewat sela sela gorden jendela kamar kosan gue bener bener menunjukkan kulitnya yang putih dan mulus. Badan dia memang ramping karena sering lari sore. Udah kaya ngeliat badan model aja deh kalo Rahma lagi berpose di depan gue kaya sekarang ini.

“Lumayan deehh..” Jawab gue singkat sambil memuaskan mata gue melihat badannya. Rahma kembali tersenyum mendengar jawaban gue.

“Lagian kamu belom dipegang aja itunya udah kaya gitu.. Segitu lamanya ya kita ga ML?” Tanya Rahma lagi.

“Udah kebelet itu pacaarr! Mana kamu tampangnya bikin nafsuin bangeett.. ” Jawab gue kemudian bangkit pengen narik Rahma ke kasur, udah mulai ga tahan gue.. Pengen gue sikat buru buru..

“Eiittss.. ” Tahan Rahma. Tangannya menahan kepala gue yang udah mau nyosor ke perut dia. “Sabar dooongg.. ” Ucapnya lalu mendorong gue kembali ke kasur. Hadeeehh.. Rahma emang bisa banget mainin nafsu gue yang udah di ubun ubun ini.. “Kalo belom dipegang aja udah kaya gitu, apalagi kalo ngeliat ini?” Katanya lagi, tangannya bergerak ke belakang branya untuk ia buka.

Seluruh badan gue berdesir oleh nafsu saat melihat Rahma sedikit menunjukkan aksi striptease di depan gue. Dengan piawai tangannya membuka branya sambil tangan yang satunya lagi menutupi dadanya agar Payudaranya tetap tidak terlihat meskipun branya perlahan mulai lepas.

Uuugghh.. demen banget gue ngeliat striptease gini.. Kalo gue lagi nyari ‘bahan pelajaran’ di internet, Striptease pasti jadi keyword pertama gue. Dan Rahma tau persis gimana tertariknya gue sama striptease hingga dia sering kali menggoda gue dengan menari striptease sebelum kita ML. Tapi striptease kali ini beda.. Rahma keliatan niat banget striptease di depan gue dan gerakannya makin seksi aja! Ah mungkin karena udah lama juga kita ga begini..

PLOK!

Bra Rahma dilempar olehnya hingga mengenai muka gue. Aaahh gilaa.. sensasinya itu lhoo..

Gue lepasin Bra yang nyangkut dan menghalangi pandangan di muka gue itu dan dihadapkan pada pemandangan Rahma yang memainkan payudaranya. Puting susunya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya dan dia meremas remas sendiri payudaranya sambil memasang muka horny.

Gue pengen bangkit lagi tapi Rahma ngasih isyarat kalo pertunjukkan dia belom selesai. Gue nurut, gue ikutin aja permainan Rahma kali ini.

Rahma lalu membalik badan dan menunjukkan bokongnya yang sekel itu. G-stringnya mulai ia turunkan sembari pinggulnya bergoyang memutar secara perlahan. Rahma melirik gue dari samping dengan lirikan godaan. Belahan Vagina Rahma sedikit tersingkap ketika ia membungkuk untuk melepaskan G-stringnya itu. Daammnn, klo aja bisa gue pause ini moment, gue hajar itu vagina dari belakang.. Jiirr ga tahan nih!

Selesai melepaskan G-stringnya, Rahma menoleh sedikit ke belakang, badannya juga sedikit memutar dan sedikit menunjukkan payudaranya dari samping.

“Kamu suka peperoni kan?” Tanya Rahma tiba tiba.

Hah?

Peperoni daging bunder yang suka jadi topping di pizza itu maksudnya?

“Su..suka lah.. Kenapa emang?”

Rahma terus tersenyum. Jari telunjuknya ia letakkan di bibirnya mengisyaratkan gue untuk diem aja. Rahma lalu mengambil kota Pizza yang ia bawakan itu kemudian melakukan sesuatu. Gue hanya bisa melihat kebingungan saat Rahma yang membelakangi gue itu seperti sibuk sendiri.

Tak lama kemudian Rahma berbalik badan. kedua tangannya masih menutupi payudaranya namun vaginanya yang hanya sedikit ditumbuhi bulu bulu halus itu terlihat dengan jelas. Rahma berjalan perlahan menghampiri gue dan mulai naik ke kasur. Pandangannya terus menatap gue dengan penuh godaan. Ia mengambil posisi untuk duduk di pangkuan gue. Mau apa lagi dia?

“Klo peperoninya kaya gini masih suka ga?” Tanyanya menggoda sambil melepaskan tangannya dari payudaranya.

Gue langsung ngeliatin payudara Rahma yang kenceng dan bulet banget itu.

Eh?

Wanjir!

Puting Susu Rahma sedikit tertutup oleh Peperoni pizza yang menempel. Peperoni itu tidak cukup besar untuk menutupi areola Rahma, namun putingnya tertutup.

FAAKK!

Udah berasa nonton film porno aja ini sih!

“Suka laahh! Suka banget!” Jawab gue antusias kemudian bangkit hingga kita berdua bisa berpelukan.

Rahma lalu sedikit bersandar ke belakang untuk memudahkan gue bisa menikmati payudara Rahma.

Langsung aja gue sikat peperoni yang menempel di kedua puting susu Rahma itu sambil gue gigit gigit sedikit puting susu Rahma.

“Uuuhhh… ” erang Rahma saat lidah gue berputar putar di puting susunya.

Rasa asin dan gurih dari daging peperoni itu ditambah kenyalnya tekstur payudara Rahma dan puting susunya yang mulai mengeras bener bener memberikan sensasi luar biasa yang ga pernah gue rasain sebelomnya.

Secara bergantian gue mainkan payudara Rahma dan dalam sekejab peperoni itu udah gue ambil pake gigi gue. Terlihat sudah payudara Rahma yang tidak tertutup apapun. Puting susunya yang coklat dan aga puffy itu seperti meminta gue untuk kembali menghisapnya. Tapi gue punya ide, Gue menarik badan Rahma agar dia bisa duduk tegak dan menyambut daging peperoni yang sengaja gue tahan di bibir gue.

Rahma langsung konek dan segera mencium gue dan menggigit peperoni itu. Kita lalu berciuman dengan penuh nafsu sambil mengunyah daging peperoni di mulut kita masing masing. Ga terbayang deh rasanya kaya gimana.. bener bener pengalaman yang menarik banget!

Rahma lalu menggerakkan pinggulnya hingga menggesek vaginanya yang menempel dengan tonggak revolusi yang udah maksimal. Gue bisa ngerasain penis gue ini kegesek gesek di sela sela bibir vagina Rahma setiap kali pinggul Rahma bergoyang. Sesekali kita berciuman kembali sambil terus petting.

Tangan Rahma mulai turun ke bawah dan mulai mengocok penis gue secara perlahan.

“Aahh.. Enaakk caarr!” Erang gue menikmati kocokan Rahma yang makin lama makin cepat. Gue cium terus Rahma, tangan gue juga ga mau kalah, gue pijet payudaranya dengan lembut dan sesekali mencubit puting susunya yang udah keras itu. Nafas Rahma mulai tak beraturan. Ia mulai larut dengan rangsangan yang gue berikan lewat payudaranya.

Tangan gue mulai bergerak turun ke bawah. Kali ini tangan gue merangsang Rahma lewat Vaginanya yang sudah basah. Gue mainkan jari gue dan menggesek gesek bibir vagina terluar Rahma. Tiap gesekan semakin ke dalam vaginanya. Rahma makin tidak bisa mengatur nafasnya, dia udah menikmati jari jari gue yang dengan bebasnya masuk ke dalam vagina dia. Rahma berhenti mengocok penis gue dan mengambil bantal kepala lalu ia letakkan di belakang untuk dia tiduran.

Kakinya perlahan lahan semakin ngangkang dan menunjukkan vaginanya. Jari jari gue semakin leluasa bergerak masuk ke dalam vaginanya. Rahma mulai merem melek, kedua tangannya meremas bantal kepala menahan kenikmatan yang gue berikan.

“Ughh.. ” Erang Rahma sambil merem.

Gue memutuskan untuk makin menyerang Rahma, gue posisikan badan gue hingga tengkurap dan muka gue bisa nyaman untuk menikmati daerah vagina Rahma.

Rahma tampak antusias melihat gue yang bersiap untuk memberikan oral seks. Matanya sedikit melirik ketika gue memposisikan muka gue.

Dengan posisi seperti ini, Vagina Rahma bisa terlihat jelas. Rahma sangat merawat daerah kewanitaannya itu dengan baik. Setiap kali gue sama Rahma mandi bareng, pasti Rahma ga pernah lupa buat membersihkan daerah kewanitaannya itu dengan sabun pembersih khusus. Hampir tiap hari juga dia mencukuri bulu bulu kemaluannya agar tidak terlalu lebat dan panjang. Aroma khas daerah kewanitaan bercampur bau sabun pembersih itu mulai melekat di hidung gue. Bibir vagina terluar Rahma mengkilap karena basah oleh cairan kemaluannya. Gue tarik pinggul Rahma untuk makin mendekat ke muka gue dan gue kunci kedua tangan Rahma di pangkal pahanya. Rahma lalu melebarkan kedua pahanya dan membuat vaginanya merekah.

Bibir vagina dalamnya yang berwarna merah muda mulai terlihat, mengkilap sama seperti bibir terluarnya.

Segera gue benamkan kepala gue ke vagina Rahma dan Rahma langsung mengerang keenakan.

“Hhhhhhmmpphh.. Sayaanngg.. ” Ucapnya pelan.

Lidah gue bermain main dan menekan masuk ke dalam vagina Rahma. Saat sudah berada di dalam, gue puter puter lidah gue dan membuat Rahma makin tidak karuan menahan nikmat. Gue jilati daerah klitoris Rahma yang muncul dari bibir dalam vaginanya. Disitulah pertahanan Rahma runtuh.

Rahma terus mendesah dan badannya terus bergerak saat gue padukan lidah gue dengan jemari gue bermain di vaginanya.

“AAkkhh.. terRUUSS..” ucapnya mulai tidak jelas. Tangannya tanpa ia sadari meremas dan mengacak acak rambut gue.

Gue pacu terus gerakan lidah gue dan jemari gue, semakin kencang dan kencang.

Pinggul Rahma bergerak mengikuti irama lidah dan jemari gue. Rahma udah semakin ilang ke dalam surga dunia.

“SayaaaanNNGG! UUUhhHH!” Desahnya tiba tiba.

Badan bawahnya mengejang. Pahanya menjepit kepala gue dan tangannya menjambak rambut gue.

“HHhhh AaahHH hHaaahh.. ” erang Rahma.

Orgasme..

Rahma seperti orang yang setengah tidak sadarkan diri saat orgasme. Semua badannya bergetar, apalagi kakinya yang terlihat mengejang. Gue teruskan goyangan lidah dan jemari gue untuk memaksimalkan orgasme Rahma.

Rahma akhirnya terlihat lemas. Kedua Pahanya terjatuh di kasur. Nafasnya memburu. Jambakan tangannya mulai lepas dan ekspresi mukanya seperti masih menikmati sisa sisa orgasmenya.

“Huuuu curang kamuu!” seru Rahma sambil mengatur nafasnya dan melihat gue yang masih memainkan vaginanya. Ia lalu sedikit bangkit dan menjauhkan vaginanya dari muka gue. “Jadi aku duluan yang keluar.. ” Lanjutnya.

Gue senyum ngedenger Rahma ngomong gitu.

“Tapi enak kaann?” Goda gue. Rahma mengangguk puas dan senyum. Dia lalu menarik kepala gue dan mencium gue.

“Makasih sayaangg.. ” Katanya di sela sela ciumannya. Tangannya terus memegangi penis gue yang mulai kendur dan ia kocok perlahan lahan. “Tapi aku maunya aku keluar gara gara dimasukkin ininya kamu tauu.. ” Kata dia sambil terus mengocok penis gue.

“Mau banget dimasukkin?” Goda gue lagi.

“Hiiihh.. nyebelin!” Ucapnya memasang muka jutek. Dia terus membaringkan gue di samping dia dan sekarang gantian dia yang bersiap mengoral seks.

Gue tidur telentang dan menatap Rahma yang telaten banget ngocokin penis gue dan memainkan kedua biji gue dengan kedua tangannya.

“Aku bales nih!” Ucap Rahma jutek kemudian melahap penis gue.

OOhh Shiitt.. ini dia..

Penis gue akhirnya mulai tegang lagi seiiring Rahma mengoral gue. Mukanya naik turun menghisap penis gue yang udah tegak berdiri. Sesekali ia berhenti mengulum dan diganti dengan kocokan lembut tangannya. Lidahnya bolak balik menjilati kepala penis gue dan sesekali ia kecup sambil memandang gue dengan nakal. Fak, Rahma emang jago banget soal urusan beginian..

Rahma lalu memposisikan kepalanya agar bisa memasukkan seluruh penis gue ke dalam mulutnya. Perlahan tapi pasti penis gue mulai ambles ke dalem mulutnya sampai akhirnya benar benar ia telan.

“Guughh.. Urrghghh.. ” Terdengar Rahma berusaha menahan mulutnya agar tidak tersedak. Ia lalu menarik mulutnya dan mengeluarkan penis gue.

“Gaaaahhh.. ” Ucapnya sambil mengelap air liurnya yang menetes dari mulutnya sambil tangannya yang satu lagi langsung mengocok penis gue lagi.

Fak enak banget!

Rahma memulai lagi, namun kali ini dia ga sampe abis melahap penis gue, tapi kali ini dia bergerak naik turun dengan ritme yang cukup cepat.

“UUUuhhhhh… ” Tanpa sadar gue mulai mengerang. Kedua tangan Rahma menahan penis gue agar tetap tegak dan semakin mempercepat naik turun mulutnya.

“Sayaangg enak!” Ucap gue melihat Rahma seperti itu. Bener bener deh Rahma jago banget soal blowjob.. Ga risih kaya cewe cewe lain..

Gue mulai terlarut menikmati servis Rahma. Mata gue mulai merem melek. Tiba tiba Rahma berhenti.

“Aaahh kamuu.. Ga boleh keluar! Masukkin dulu.. ” Rengek Rahma sambil tetep ngocokin penis gue.

“Yaudah yaudah ayo sini sayang.. ” Ucap gue. Gue juga udah ga tahan pengen masukkin Tonggak Revolusi gue ini ke dalam lembah kenikmatan Rahma.

Rahma lalu naik ke atas badan gue dan mengambil posisi Women on Top. Dia ambil penis gue dan diarahkan ke vaginanya.

Bles.. langsung dengan mudahnya ambles ke dalam vagina Rahma yang udah basah. Rahma lalu berlutut dan mulai menggenjot pinggulnya naik turun. Kedua tangannya bertumpu ke dada gue.

“Uuuhhh.. ” Desah Rahma pelan saat pinggulnya naik turun. Penis gue berasa banget dihujam oleh Vagina Rahma. Apalagi ketika Rahma mulai mengulek ulek penis gue, astagaa itu rasanyaa..

​ 

Desah nafas kita berdua mulai saling pacu. Erangan dan desahan udah ga malu malu lagi kita keluarin. Tangan Rahma udah ga berada di dada gue lagi, dia meremas remas payudaranya dan memainkan puting susunya sambil terus menggenjot pinggulnya.

“Hhhh.. Hhhh.. Uuuhhhh!” Lenguh Rahma sambil memilin puting susunya.

Gue ga tinggal diam dan bangkit untuk meremas dan menghisap payudara Rahma. Areola Rahma semakin membengkak dan puting susunya mengeras. Terlihat titik pori pori kulit di sekitaran areola Rahma. Sepertinya dia sudah makin terangsang..

“Enakan ini daripada peperoni yang.. ” Ucap gue sambil mengatur nafas dan menghisap payudara Rahma. Kenyal banget payudara dia.. Rahma tersenyum mendengar celotehan gue tadi, tangannya memegang kepala gue sementara tangan satunya lagi bertumpu di kasur.

Cukup lama kita berada di posisi itu hingga akhirnya gue berinisiatif ganti posisi.

“Sayang, kamu tengkurep coba.. ” Gue mencoba mengarahkan Rahma untuk posisi yang gue inginkan. Doggy Style.. Posisi favorit semua orang.. Rahma menurut dan berpindah posisi. Kedua lutut dan kedua tangannya bertumpu di kasur, Gue langsung mengambil posisi di belakang Rahma dan mengarahkan penis gue ke Vagina Rahma.

Slep!

Penis gue dengan mulus masuk diantara celah selangkangan Rahma. Rahma tampak aga kaget waktu penis gue dengan cepat menghujam Vaginanya dari belakang. Namun lama kelamaan dia kembali menikmati.

Pak Pak Pak Pak Pak!

Hentakan badan gue ke badan Rahma mebuat bunyi yang khas.

“Aaaaahhhh.. Uuuuhhh.. Terus yaanngg enNnaaAKKkk.. ” Kata Rahma sambil merem melek. Pinggul Rahma mulai ikut bergoyang kembali ke depan dan belakang untuk memaksimalkan penetrasi penis gue.

Gue pijat payudara Rahma dari belakang. Kedua tangan gue yang tadinya berada di pinggang Rahma kini beralih ke Payudara Rahma yang menjuntai dan bergerak bebas saat sodokan badan gue terus menghentak badan Rahma.

Gue percepat hentakan gue untuk menambah sensasi Doggy Style. Rahma langsung mendesah tidak berhenti karena hentakan gue ini.

“Haaahhh AaahhhhhhHh Uuuhhhhh AhhhHhH ” Desah Rahma. Suaranya makin kencang.

Lalu gue perlambat hentakan gue agar Rahma penasaran dan gue bisa ngambil nafas.. Cape juga RPM tinggi kaya gitu..

Rahma lalu menengok ke samping dan memanggil gue. “Sayaaaanngg.. AaaHHhhh.” Erangnya seksi. Tangannya berusah menggapai kepala gue. Gue majuin kepala gue dan memeluk dia dari belakang. Gue kecup pipinya dan lehernya. Rahma terus mencium bibir gue. Tangannya merangkul kepala gue dan mengacak acak rambut gue sambil melumat bibir gue penuh nafsu.

Huaahh, stamina gue udah keisi lagi nih.. Gue melepaskan diri dari ciuman Rahma dan mulai memacu lagi hentakan gue lebih cepat. Rahma makin tidak kuasa menahan nikmat, kedua tangannya sudah tidak lagi menjadi penumpu badannya. Kepalanya yang berada di bantal kini menjadi penumpu utama badan atasnya. Perubahan posisi badan atas Rahma ini membuat Bokong Rahma menjadi makin membusung dan mengekspos Vaginanya yang sudah mengkilap oleh cairan kemaluannya.

Gue cabut penis gue untuk sedikit oral seks. Dari posisi ini sangat enak melahap Vagina Rahma yang begitu terekspsos. Klitorisnya juga jadi gampang tersentuh oleh lidah gue.

“Aauuu.. Aahhh.. Ahhhh.. ” Desah Rahma keenakan. “Masukkin lagi sayaaaaNnnNGG.. ” Lanjutnya.

Gue turutin permintaan Rahma dan dalam sekejab penis gue kembali mengisi Vagina Rahma. Posisi kaya gini bikin Vagina Rahma jadi sedikit lebih rapat, apalagi kalo Rahma merapatkan pahanya..

Dinding dinding Vagina Rahma menggesek kepala penis gue yang super sensitif. Otot ototnya seperti berusaha menahan laju penis gue masuk dan makin mengirimkan rangsangan rangsangan yang luar biasa nikmatnya setiap kali penis gue bergerak keluar masuk.

Gue percepat dan terus percepat hentakan gue ini hingga Rahma sampai hampir tidak berdaya lagi.

“Saayyaanngg.. Aku mau… AahhhhHHHHH.. ” Erang Rahma saat akhirnya dia Orgasme untuk kedua kalinya. Gue turunkan tempo gue agar tidak mengganggu sensasi oragasme yang sedang dirasakan Rahma. Badannya kembali bergetar seperti orang kedinginan. Mata Rahma terus merem melek menikmati orgasme yang ia dapatkan.

“Hhhh… Huuuuhhh… Aaahhhh.. ” desah Rahma sambil berusaha kembali ke alam sadarnya. Rahma lalu mengatur nafasnya kembali dan nengok ke gue.

“Kamu belom keluar jugaa? IIiiihh curang banget.. ” Kata Rahma. “Biasanya kamu cepet keluarnyaa.. ” Lanjut dia.

“Sekali sekali aku yang bikin kamu puaass.. ” Jawab gue singkat.

“Udah puas koo iniii.. Enak banget sayaangg..” Kata Rahma lalu bangkit dan tidur terlentang. Dia lalu menarik tangan gue untuk menindih dia.

“Sekarang kamu yang keluar yaahh.. Masa aku udah dua kali kamu belom.. ” Kata Rahma. Udah puas dia dapet dua kali hari ini.. Gue juga bingung sih kenapa gue punya ide begini? Mungkin karena gue dalem hati ngerasa bersalah udah deket sama cewe lain kali, jadinya gue ngerasa paling engga Rahma bisa dapetin kepuasaan saat ML sama gue.

Rahma mencium bibir gue dan membiarkan tubuh gue menindih tubuhnya. Payudaranya yang kenyal dan puting susunya yang udah keras itu terasa menempel di dada gue. Kembali gue remas payudara Rahma. Bener bener enak megang payudara Rahma..

Kedua tangan gue lalu bertumpu di samping badan Rahma dan setelah itu gue mulai menggerakkan kembali pinggul gue untuk menghujam vagina Rahma. Sekarang giliran gue yang orgasme nih..

Rahma membantu gue dengan menghisap puting susu gue dan membelai belai dada gue. Dia terus memandangi gue yang lagi konsentrasi full buat keluar.

“UUuhh terus yaaanngg.. ” Desah Rahma.

Desahannya ia buat seseksi dan semenggairahkan mungkin untuk memacu rangsangan gue.

Ga lama kemudian gue mulai mengerang nikmat. Gue bisa ngerasain penis gue kaya mau pipis.. Dari batang kemaluan gue kaya udah dipenuhi sama sperma yang siap keluar sebentar lagi. Gue percepat lagi hentakan gue sampai akhirnyaa..

Ini dia!

Gue cabut penis gue dari vagina Rahma. Rahma segera membantu gue dan ngocokin penis gue dengan cekatan..

“AAaaahhhhh….. ” Erang gue menikmati orgasme gue.

Penis gue menyemburkan sperma yang langsung muncrat ke daerah perut Rahma dan sebagian ke dekat Payudara Rahma. Rahma dengan konstan terus mengocok penis gue hingga tidak ada sperma lagi yang menyembur keluar.

Huuaaahhh.. mantap! Ini luar biasa sih..

Ga berapa lama gue langsung terkulai lemah di samping Rahma, berusaha mengatur nafas gue yang memburu dengan cepat. Rahma mencium pipi gue terus bangkit bari tempat tidur mencari tissue untuk membersihkan sisa sisa pertempuran kita berdua. Revolusi yang luar biasa..

Gue langsung ngerasa ngantuk.. Cape juga.. bulir bulir keringat sampe muncul di sekujur badan gue. Hadeehh padahal baru mandi.. udah keringetan lagi..

“Sayaanng.. dimakan tuh Pizzanya.. keburu dingin loohh..” Kata Rahma yang lagi ngaca sambil mengikat rambutnya.

“Oiyaa sampe lupa aku ada Pizza.. ” Jawab gue langsung bangkit dari tempat tidur.

Abis ngeseks kaya gitu terus makan Pizza.. Gilaaa, kurang sempurna apalagi? Sambil memakan se slice pizza gue menghampiri Rahma yang masih ngaca. Badannya yang ramping dan kenceng itu bikin postur tubuh dia kaya postur tubuh seorang model.. Dan sekarang ini dia makin terlihat seksi karena tubuhnya sedikit mengkilap oleh bulir bulir keringat. Apalagi pose dia yang lagi mengikat rambutnya dan memperlihatkan tengkuk lehernya yang putih bersih.. Huaahh, salah salah bakalan revolusi lagi nih..

Gue peluk dia dari belakang dan mencium pipinya. Rahma lalu memegang kedua tangan gue dan ia genggam erat. Kita berdua saling liat liatan lewat cermin dan tersenyum.

“Aku sayang kamu Ra..” Tanpa sadar gue berbisik gitu di telinga dia. Rahma sumringah ngedenger gue ngomong itu dan melahap pizza yang gue pegang di tangan gue.

“Diih diihh.. ” Ucap gue ga terima pizza gue diambil dia. Gue langsung ngelepasin pelukan gue.

“Biarin.. Weeekk.. Aku yang beli juga wooo!” Kata Rahma genit. Ia lalu membalik badannya dan memeluk gue. Kedua tangannya membelai leher gue dan Rahma menatap mata gue dalem dalem. Dia ga ngomong sepatah katapun, tapi gue tau apa yang mau dia katakan. Rahma terus nyium bibir gue dengan lembut. Kita berdua kembali berciuman dengan hangat.

Dan hape gue tiba tiba bunyi.

Rahma yang kaget langsung melepaskan ciumannya.

Daamnn ganggu aje..

Gue samperin hape gue dan gue liat siapa yang nelpon.

K E Z I A.

Astaga.. Gue lupa..

Gue langsung ngeliat Rahma yang udah balik ngaca lagi sambil memasang Bra nya.

===

Dari cermin dia bertanya, “Siapa?”

Duh gue jawab apa yaa? Masa gue boong sih?”

“Si Kezia.. ” Jawab gue jujur. Ga sanggup gue ngeboongin Rahma setelah apa yang terjadi barusan. Semoga aja ga marah dia.

“Ooohh.. ” Jawab Rahma santai. Fiuuhh.. Rahma ga marah atau bingung.

“Halo Key.. “

“Leerr.. jadi kesini? Kita udah pada nyampe nih di Pakar.. ” Kata Kezia.

“Mmm.. gue baru abis mandi nih.. ” Ucap gue ga menjawab pertanyaan Kezia.

“Yaampuunn kamu mandi aja lama banget.. mau ketemu siapa sih sampe lama gitu mandinya?” Pancing Kezia. Aduh Key.. timingnya ga tepat banget nih..

“Hahaa.. gue sakit perut tadi, makanya aga lama.. ” Jawab gue.

“Ooh gitu.. minum obat gihh.. masih sakit perutnya?” Tanya Kezia penuh perhatian.

“Udah engga koo.. ” Jawab gue singkat.

“Eh yaudah, kamu jadi kesini?” Tanya Kezia lagi. Aduh..

“Ra, kamu mau ikutan anak anak ga makan di Dago Pakar?” Gue berusaha ngajak Rahma ikutan. Kali aja dia mau. Rahma menggeleng.

“Males ah.. aku di kosan kamu aja.. kamu kalo mau kesana gpp koo.. ntar klo kamu lama, aku tinggal pulang ke kosan ajaa.. ” Jawab Rahma sambil mengecek hapenya.

Duh Rahma..

Kenapa sih dia membebaskan gue banget?

“Halo? Ler?” Dari hape gue terdengar kembali suara Kezia.

Siapa yang harus gue piliihh?

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 14 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 15)